Beranda | Buku Tamu | Hubungi Kami

Rabu, 20 November 2013

"TENUN SONGKETNYA ROHIL"



TENUN MELAYU
(Tenun Songket Rohil)
 
Sejarah Tenun Songket
Orang pertama yang memperkenalkan tenun Siak adalah seorang perajin yang didatangkan dari kerajaan Siak Terengganu Malaysia pada masa ketika Kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali. Dari Terengganu Wan Siti Binti Wan Karim dibawa ke Siak Sri IndraPura. Beliau adalah seorang wanita yang terampil dalam bertenun. Beliau mengajarkan bagaimana cara menenun kain songket.
Pada awalnya Tenun yang diajarkan adalah Tenun Tumpu, kemudian bertukar ganti dengan menggunakan alat yang dinamkan dengan “kik“. Kain yang dihasilkan disebut dengan kain tenun siak. Pada awalnya kain tenun siak ini dibuat terbatas bagi kalangan bangsawan saja, terutama sultan dan para keluarga serta para pembesar kerajaan dikalangan Istana Siak. Kik adalah alat tenun yang sederhana, terbuat dari bahan kayu berukuran sekitar 1 x 2 meter. Sesuai dengan ukuran alatnya, maka kain yang dihasilkan tidaklah lebar, sehingga tidak cukup untuk satu kain sarung, sehingga harus disambung dua yang disebut dengan kain berkampuh.
Di Kabupaten Indragiri Hilir, khususnya di kecamatan Khairiah Mandah, masyarakat Melayu juga membuat kerajianan tenun Songket, dengan alat tenun tumpu. Motif-motif yang dipakai tidak menggunakan benang emas. Tenun ini banyak memiliki kesamaan dengan tenun Bugis. Kerajinan tenun Songket di daerah Indragiri Hilir juga dikembangkan oleh masyarakat pendatang dari Sulawesi Selatan (suku Bugis) yang merantau ke Negeri Seribu Parit Indragiri Hilir untuk berkebun kelapa dan membuka lahan pertanian. Keterampilan bertenun yang telah mereka miliki di daerah asalnya mereka kembangkan di tempat yang baru. Mereka yang memiliki keterampilan bertenun membawa alat-alat tenun tradisional yang mereka sebut “godokan”. Ibu-ibu menenun kain dengan motif dan corak khas susku Bugis, pada waktu itu dikerjakan di rumah sambil menunggu hasil pertanian dipanen. Berkat pembinaan Pemerintah dan Dekranasda Kabupaten Indragiri Hilir, alat tenun tradisional kemudian ditingkatkan menjadi Alat tenun Bukan Mesin (ATBM). Saat ini, industri kerajinan tenun Songket Indragiri Hilir telah menyebar ke beberapa wilayah di Kabupaten Indragiri Hilir.
Dalam perkembangan tenun, saat ini sudah tidak lagi dipergunakan Kik atau Gedokan/Godokan sebagai alat tenun, melainkan telah dipergunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Dengan mempergunakan ATBM, pembuatan sehelai kain tenun hanya membutuhkan waktu selama 4 atau 5 hari saja. Disamping itu, juga telah dikembangkan tenunan modifikasi dengan mempergunakan benang bordir sebagai pengganti benang emas. Pekerjaan untuk kain tenun modifikasi sedikit lebih cepat daripada pembuatan tenun dengan menggunakan benang emas, yaitu sekitar 3 atau 4 hari untuk sehelai kain. (sumber :Khazanah Kerajinan Melayu Riau)

Proses Pembuatan Kain Tenun
Proses pembuatan kain tenun meliputi beberapa tahapan berupa :
  1. Persiapan mesin, peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan.
  2. Pewarnaan benang.
  3. Penghanian benang (hani boom).
  4. Pengelosan benang.
  5. Pencucukan benang.
  6. Pembuatan kain tenun.
  7. Finishing kain
A. Persiapan mesin, peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan
1.     Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)
Sanggar Tenun Rokan Hilir menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin sebagai alat kerja utamanya. Saat ini ATBM yang ada sebanyak 20 unit, 14 unit terpasang, 2 unit dipinjamkan ke pengrajin tenun di Bagan Batu dan sisanya sebanyak 4 unit belum terpasang dikarenakan keterbatasan ruang kerja.
2.     Kelos
Alat kelos berupa kincir pemutar yang berfungsi menggulung benang kelos/pakan ke palet yang nantinya akan digunakan pada teropong.
3.     Kincir
Alat kincir berupa kincir pemutar benang warna yang berfunsi menggulung benang pakan/benang warna ke bobin yang nantinya akan dapat digunakan untuk dipindahkan ke palet atau juga dapat digunakan pada proses menghani benang (pembuatan benang rentang)
4.     Teropong
Teropong atau sekoci merupakan alat yang digunakan pada proses pembuatan kain tenun, dimana benang pakan/benang warna akan dipintal pada benang rentang (ke kiri dan ke kanan)
5.     Palet
Palet merupakan alat peletakan benang pakan/warna yang diletakkan pada teropong/sekoci pada proses pembutan kain tenun
6.     Cuban
Cuban merupakan alat bantu dalam pemasukan/penjalian motif benang emas/perak pada saat pembuatan kain tenun.
7.     Benang Rentang
Benang Rentang adalah gulungan benang utama/dasar berupa gulung besar pada kayu boom yang dibuat melalui proses penghanian (menghani benang)
8.     Benang Kelos/Pakan
Benang Kelos/Pakan adalah benang warna yang digunakan sebagai benang kombinasi warna pada kain tenun yang diperoleh melalui proses perwarnaan atau pencelupan benang. Pada dasarnya benang ini juga dapat digunakan pada proses pembuatan benang hani (benang rentang) dalam jumlah lebih besar.
9.     Benang Emas/Perak
Benang emas/perak merupakan benang yang digunakan untuk pembuatan /pemasukan motif pada pembuatan kain tenun. Benang ini diperoleh dengan membeli dari distributor/penyalur/penjual karena dibuat melalui proses manufaktur
10.   Benang Dasar
Benang Dasar adalah benang yang digunakan sebagai benang dasar/baku pada proses pewarnaan/pencelupan benang. Benang ini juga diperoleh dengan membeli dari distributor/penyalur/penjual karena dibuat melalui proses manufaktur. Lazimnya benang ini bewarna putih jenis CSM dengan bahan dasar katun (cotton)
B. Pewarnaan Benang
1.     Pencucian Benang
Benang CSM terlebih dahulu dicuci dengan typol atau TRO kemudian direndam selama 1 jam dalam bak pencucian. Setelah itu benang diangkat dan dibilas dengan air sampai serat-serat benang terangkat dan benang bersih.
2.     Pemutihan
Benang yang telah dibersih tadi dilakukan proses pemutihan benang.dengan campuran zat pembantu yaitu water glass, alkali, H2O2 diaduk satu persatu hingga merata dalam satu bak pemutih dicampur dengan air. Kemudian benang yang telah bersih tadi dimasukkan kedalam bak pemutihan direndam selama 24 jam. Setelah itu benang diangkat untuk dicuci kembali dengan air biasa dan dibilas lagi dengan air biasa dicampur dengan asam sulfat supaya kostik yang melengket dibenang dan zat pembantu tadi hilang.. benang yang telah benar-benar bersih dijemur sampai kering.
3.     Pewarnaan Benang
Benang yang telah pemutihan direndam ke dalam bak pencelupan dengan campuran typol selama 1 jam. Dan diangkat lalu dibilas dengan air biasa. Untuk pewarnaan yang kita inginkan siapkan zat warna apa yang mau kita warna, misalnya pink kita takarkan dengan timbangan zat warna lalu dicamour dengan air panas lalu diaduk sampai rata  dan dimasukkan zat warna tadi kedalam bak pencelupan  lalu benang dimasukkkan kedalam bak pencelupan dan benang diaduk dan dibolak-balik lagi hingga warna merata pada seluruh benang. Setelah warna merata pada benang masukkan garam selama 15 menit. Berfungsi untuk pengikat zat warna biar warna tidak luntur selama 15 menit. Selama proses pencelupan ini biar menghasilkan warna pada benang  merata terus dilakukan benang dibolak-balik sampai proses pencelupan selesai. Benang yang telah selesai pencelupan diangkat dan tiriskan selama 15 menit, setelah itu benang dicuci dengan tiga tahap yaitu tahap pertama dengan air biasa lalu tahap kedua dibilas dengan air biasa dicampur dengan Sandrofit dan tahap ketiga dibilas lagi dengan air biasa dicampur dengan Ramasit. Kemudian benang dijemur hingga kering.

  C.    Pengelosan Benang
Proses pengelosan benang merupakan proses penggulungan benang pakan yang telah diwarnai (pewarnaan), dimulai dari menggulung benang ke bobin menggunakan kincir dan kemudian gulungan benang bobin tersebut dipindahkan ke gulungan palet menggunakan alat kelos. Hasil proses pengelosan benang ke palet ini nantinya akan digunakan pada pembuatan kain tenun yang dipasang pada alat teropong.

  D. Penghanian Benang (Hani Boom)
Proses penghanian benang (hani boom) merupkan proses pembuatan benang rentang yang merupakan bahan baku utama pada proses pembuatan kain tenun. Proses penghanian benang meliputi :
1.     Penggulungan Benang Bobin
Proses ini menggunakan kincir sebagai penggulung benang ke bobin, dimana gulungan benang pada bobin tersebut akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan benang hani. Gulungan benang bobin akan disusun/diletakkan pada rak hani dalam jumlah besar sekitar 400 buah
2.     Penghanian Benang
Proses penghanian benang dimulai dengan pengelosan benang ke bobin terus dipasang di rak hani supaya mudah tidak kusun dan putus, dan benang yang ada di bobin dimasukkan ke mata gun yang jumlah nya tidak terlalu bayak, baru dimasukkan ke sisir yang yang pendek. Kemudian benangnya ditarik tidak terlalu panjang untuk diikat di mesin hani yang besar, lalu digulung dengan hitungan meter sesuai berapa panjang yang hendak kita hanikan. Penghanian ke mesin hani, dilakukan berkali-kali, karena jumlah bobin yang digunakan tidak terlalu banyak, sekitar 1000 bobin. Setelah siap digulung benang tersebut kemudian ditarek sekitar 1 m, lalu diikat di kayu hani boom tersebut sebanyak benang yang sudah kita gulung tadi. Penggulungan di kayu hani boom hampir sama dengan penggulungan di mesin hani boom. Melakukannya juga berkali-kali, dengan lebar sesuai yang kita kehendaki. Biasanya sesuai takaran yang sering dipergunakan sekarang adalah sekitar 120 cm. Baru kemudian gulungan benang tersebut siap untuk dipergunakan pada menin tenun ATBM sebagai benang rentang.

 E.  Pencucukan Benang
1.     Pencucukan Ke Mata Gun
Tahap awal sebelum benang dimasukan Ke Mata Gun terlebih dahulu benang Hani Boom nya di tempatkan di atas Mesin Tenun, guna untuk lebih nyaman agar benang tidak kusut dan mudah di masukan. Mulailah memasukan benang ke Mata Gun satu persatu dari sebelah kanan, pada awal pencucukan benang dalam satu Mata Gun benang yang di masukan sebanyak 2 helai benang dalam satu Mata Gun nya.
Untuk 40 pasang Mata Gun (yang gunanya untuk mempertebal tepi kain hal yang sama juga di lakukan untuk bagian terakhir benang yang di sebelah kiri). Benang di masukan menggunakan jarum khusus yang berkait untuk mempermudah pemasukan benang tersebut, Mata Gun terdiri dari 4 bagian rangkaian Gun. Bagian 1, 2, 3, 4 diantara bagian Mata Gun 1 dan ke 4 masing-masing berisikan 1500 Mata Gun atau sebanyak 3 Pack Mata Gun, sedangkan bagian 2 dan 3 masing-masing berisi 500 Mata Gun  atau 1 Pack Mata Gun.
Benang yang pertama di masukan ke Mata Gun pada rangkaian Gun yang ke 4 yang dipasang kan dengan Mata Gun pada rangkaian Gun yang ke 1 di ulang hingga 4 x kemudian di lanjutkan ke Mata Gun rangkaian ke 3 dan ke 2 sebanyak 1 x. sampai ke 40 Mata Gun. Setelah genap 40 Mata Gun di lanjutkan dengan memasukan 1 helai benang di setiap Gun nya dengan hitungan yang sama yaitu rangkaian 4 dan 1 = 4 x dan rangkain 3 dan 2 = 1 x hingga ke Mata Gun  sebelum 40 Mata Gun terakhir.
2.     Pemasukan Benang Ke Sisir
Setelah semua benang di cucukan ke Mata Gun tahap selanjutnya kita memasukan benang ke sisir juga dengan menggunakan jarum yang sama, pastikan sisir yang akan di masukan sudah terpasang dengan benar. Pemasukan benang ke sisir juga dimulai dari kanan jangan lupa menjarakan bagian tepi sisir ± 3 cm kedalam dan untuk jarak ke tempat teropong kiri dan kanan tergantung panjangnya sisir tersebut yang penting sama rata dan posisinya harus sama-sama ditengah. Pada awal setiap sisi sisir berisikan benang dari 2 pasang rangkaian Mata Gun yang berarti 4 helai benang untuk 40 sisi sisir kanan dan kiri sebagi pinggir kain tapi untuk sisi sisir yang di tengah setelah 40 sisi sisir di awal pemasukan benang selanjutnya cuma berisikan 2 pasang Mata Gun yang hanya berisi 2 helai benang.

 F. Pembuatan Kain Tenun
Setelah proses pemasukan benang ke Gun dan Sisir sudah selesai, maka benang Hani Boom yang ada diatas mesin di turunkan dan di rentangkan  untuk kemudian di Stel dan diikat. Sebelum menyetel terlebih dahulu alat-alat sudah di lengkapi seperti :
-          Tali plastik (untuk mengikat benang rentang yang akan di jalin menjadi kain) yang di ikatkan ke kayu penggulung
-          Batu Pemberat (gunanya untuk memberatkan kayu yang menjadi penyangga benang Hani Boom agar tidak bergeser).
-          Tali Rami untuk mengikat rangkaian Gun ke kayu pemisah benang dan ke kayu penggerak rangkain Gun
-          Kayu Penggulung untuk menggulung kayu yang sudah selesai agar tidak rusak.
-          Kayu Pemisah benang untuk memisahkan benang atas dan bawah dan untuk pemisah benang untuk pemasukan Motif.
-          Pipa pemisah benang
-          Besi penahan benang
Setelah semuanya terpasang ATBM harus terlebih dahulu disetel guna untuk kelancaran menenun kain, baru kita memulai menenun kain, namun sebelumnya kita harus menyiapkan terlebih dahulu bentuk Motif yang akan di tuangkan untuk motif kain yang akan dibuat ke dalam milimeter blok. Perbandingan motif yang ada di milimeter blok dengan motif yang akan di tuangkan ke kain adalah 1 x 3/1 kotak milimeter blok.
Cara untuk memasukan motif ke kain kita harus menginjak kayu pemisah benang yang ada di tengah untuk rangkaian Mata Gun 3 dan 2. jarak pembuatan motif untuk kaki kain dari tepi kain ± 1 atau 2 cm dari tepi kain guna untuk perapian pinggir bawah kain. Sedangkan yang sebelah kanan dengan ketinggian motif sesuai dengan motif yang akan dipakai. Untuk motif taburan kita bisa menjarakkan motif tergantung penyesuaian motif yang di buat, kaki kain di buat hingga panjang kain mencapai ± 80 cm bisa dipakai untuk Bapak-bapak dan ibu-ibu, kemudian di buat muka kain dengan ketinggian yang sama, supaya tidak kelihatan jelek/tidak rapi terhadap taburan yang telah kita buat. untuk muka kain motif yang dibuat haruslah serasi atau sesuai dengan kaki kainnya. Ketinggian muka kain bisa mencapai 80 cm tergantung pada orang yang memakainya dan lebarnya bisa mencapai ± 40 – 45 cm. Motif dibuat dengan menggunakan benang emas atau perak yang sudah dirakit ke alat bantu pembuatan motif yang disebut dengan cuban. Bahan lain untuk membuat kain yaitu benang jalan yang sudah di klos ke Bobin kemudian di klos lagi ke palet  kemudian baru di masukan ke teropong untuk kemudian di jalankan. Teropong sebagai alat bantu untuk menjalin benang menjadi kain, yang dijalankan 2 x jalan untuk 1 x motif yang ada di milimeter blok. Saat menjalankan teropong, jika di kiri maka kayu pemisah benang yang di injak sebelah kanan 2 batang dan sebaliknya jika di sebelah kanan maka yang di injak sebelah kiri.
Beberapa hal yang harus di perhatikan saat penenunan adalah :
a.     Jarak antara sisir ke ujung kain, apabila sudah dekat maka dilalukan penggulungan dengan cara mengangkat batu beban dan melonggarkan benang rentang Hani Boom kemudian ditegangkan kembali untuk melajutkan pekerjaan seperti semula.
b.     Saat penuangan motif menggunakan benang emas, benang emas yang di gunakan harus di perhatikan, apabila ada yang rusak harus di keluarkan guna untuk keindahan dan kecantikan motif tersebut.
c.     Sebelum pemotongan kain, kain yang motifnya sudah selesai hendaknya  dijarakkan ± 5 cm sebagai pengunci kain guna untuk tempat pemotongan kain tersebut. kemudian di masukan besi pembatas kain dan di jalankan ± 5 cm untuk penahan benang yang kain nya akan di potong.
d.     Setelah kain di potong di lakukan pengontrolan kain yaitu membuang sisa benang emas yang rusak dan memotong bekas penyambungan benang, kemudian kain di jahit pinggir agar benang di pinggir kain tidak lepas, kain di lipat dengan hati-hati agar tidak merusak motif yang ada, dan kain siap di kemas dan dipasarkan sesuai prosedur yang berlaku.

Pelatihan Peningkatan Pengrajin Tenun
  
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rokan Hilir telah melaksanakan Pelatihan Pengrajin Tenun yang dititik beratkan pada pembuatan Gaun Pengatin Melayu beserta perlengkapannya. Acara pembukaan tersebut dilaksanakan di Gedung Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Rokan Hilr Batu 6 Kecamatan Bangko pada hari Rabu tanggal 03 Nopember 2010 yang mana pembukaan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan diwakili Kepala Bidang Usaha dan Prasarana Industri Bapak Widodo.
Sedangkan narasumber sekaligus sebagai instrukrur pelatihan tersebut dipercayakan kepada Bapak Mardani Saputra dari pengrajin tenun Pekanbaru yang telah memiliki pengalaman yang cukup lama dibidangnya.
Latar belakang dari dilaksanakan pelatihan tersebut adalah dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia terhadap Pembinaan Kemampuan Teknologi (KUB TENUN TEKAD) yang berorientasi kepada usaha ekonomi masyarakat yang produktif dan mandiri bagi kemajuan Industri Kecil Dan Menengah khususnya yang bergerak dibidang Tenun untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya suatu sistem perencanaan yang baik, evaluasi dan pengawasan di kegiatan Pembinaan Kemampuan Teknologi (KUB TENUN TEKAD) tersebut, sehingga diharapkan adanya suatu Peningkatan dan Kemajuan terhadap kemamfaatan fasilitas pengembangan bagi usaha ekonomi kerakyatan terhadap Industri Kecil dan Menengah.
Jumlah peserta kegiatan bagi industri kecil dan menengah terhadap Pembinaan Kemampuan Teknologi (KUB TENUN TEKAD) di Kecamatan Bangko terdiri dari 15 orang yang selama ini telah memiliki kemampuan sebagai Pengrajin Tenun.
Diharapkan kedepannya terwujudnya Peningkatan Industri Tenun yang unggul yang dapat memberikan dampak positif dan bermanfaat bagi perkembangan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Rokan Hilir. Serta juga diharapkan peserta dapat pula membuat dan mengkreasikan cara-cara pembuatan Gaun Pengantin Melayu Riau lengkap dan diharapkan pula adanya terobosan-terobosan dalam kreatifitas pada warna dan motif yang berkesuaian dengan adat dan budaya melayu yang dinamis di masa yang akan datang.


Prev Post Next Post Home