Beranda | Buku Tamu | Hubungi Kami

Rabu, 20 November 2013

Kerajinan Rotan Rohil


KERAJINAN ROTAN
( Kec. Tanah Putih )

Usaha kerajinan bagi masyarakat Indonesia umumnya merupakan usaha yang telah lama ditekuni dan merupakan usaha turun temurun dari generasi sebelumnya.

Rotan banyak dimanfaatkan secara komersial karena mempunyai sifat yang lentur, kuat, serta relatif seragam bentuknya. 


Barang-barang kerajinan rotan yang umumnya banyak diperdagangkan di tingkat lokal adalah keranjang, meubel, tangkai sapu, kurungan burung, tirai, perangkap binatang, pemukul kasur/permadani, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk keperluan ekspor umumnya adalah keranjang dan meubel dalam berbagai model/bentuk. Karena banyaknya jenis dan model produk kerajinan rotan yang ada, maka dalam Laporan MKPKT industri pengguna bahan baku rotan ini dibatasi model meubel (kursi, meja, kursi sofa) model Bahama yang mempunyai pasar kuat di luar negeri.

Peluang usaha industri berbahan baku rotan dapat dilihat antara lain dari meningkatnya volume produksi dan ekspor (untuk pasar luar negeri). Dalam kondisi ekonomi di dalam negeri yang masih lesu dimana daya beli masyarakat turun, pasar ekspor merupakan pilihan penting. Disamping itu, industri berbahan baku rotan ini mempunyai kandungan lokal (local content) yang sangat tinggi sehingga tidak terlalu tergantung pada impor bahan baku. Bahan baku rotan banyak diperoleh dari hutan dan sebagian dari hasil budidaya. Industri ini banyak menyerap tenaga kerja. Dengan demikian secara nasional pengembangan usaha ini akan memberikan dampak positif terhadap pemanfaatan sumber daya alam Indonesia secara optimal dan menghasilkan devisa serta perluasan tenaga kerja.

Kerajinan Rotan dari Simpang Benar

"Mereka memang bilang mahal. Tapi, anehnya, mereka tetap rutin membeli."

Belasan perempuan duduk bersila di sebuah ruangan di bengkel kerajinan rotan Pak Nasib di Kelurahan Banjar XII, Kecamatan Tanah Putih, Rokan Hilir. Jari-jemari tangan mereka sibuk menganyam ranting rotan. Ada yang membuat kursi goyang bermotif anyaman pandan, ada juga yang membuat tutup saji, rak koran, dan ayunan buai bayi.
Bengkel itu milik Pak Nasib, 35 tahun. Sudah dua tahun dia menekuni kerajinan rotan yang diperolehnya dari mengikuti pengrajin rotan sewaktu ia masih bermukim di Sumatera Utara. "Semua bisa kami kerjakan. Pembeli bebas memesan," kata Pak Nasib dengan nada yakin.
Pak Nasib tidak sedang berpromosi. Dia sangat percaya akan kemahiran anak buahnya membentuk berbagai perlengkapan dari rotan. Ini dibuktikan dengan aneka kerajinan yang dipajang di showroom di sebelah bengkelnya. Dalam ruangan etalase berukuran 4 x 6 meter itu, beragam bentuk kerajinan rotan dipajang. Berbagai jenis kap lampu, ayunan anak menyerupai angsa, dan boks tempat cucian berbentuk penguin adalah contohnya.
Kerajinan rotan di Rokan Hilir sudah berkembang sejak 3 tahun belakangan ini. Kemunculannya hampir bersamaan di beberada daerah lain seperti Teluk Berembun dan Sei. Gajah Kubu. Namun, kerajinan perabot kayu alam memang lebih populer dibanding rotan. Namun seiring berkurangnya pasokan dan ketersediaan bahan baku kayu alam, akan berdampak dengan sendirinya tumbuh dan berkembang bahan baku alternatif lainnya.
Harga yang ditawarkan perajin pun relatif murah. Namun, semua bergantung pada ukuran dan tingkat keunikannya. Satu setel kursi tamu, misalnya, harganya Rp 1-3 juta. "Memang, jika dibandingkan dengan hasil kerajinan dari daerah lain, di sini lebih mahal," kata Pak Nasib lagi. "Tapi kualitasnya kami jamin."
Kepuasan pelanggan itu, Pak Nasib, terlihat dari jumlah pemesanan yang tetap tinggi. "Mereka memang bilang mahal. Tapi, anehnya, mereka tetap rutin kemari," kata Subhi.
Hasil kerajinan rotan pernah mencapai puncak kejayaan pada saat krisis moneter 1988 dan 1997. Saat itu dolar Amerika melejit setinggi langit. Harga rotan turut melonjak dan omzet perajin membengkak.

FURNITURE KERAJINAN ROTAN




Sampai saat ini, tak ada yang mampu menggoyahkan kualitas kayu jati sebagai furniture yang kokoh, dan berkelas. Ada rupa ada harga. Hal itulah yang terjadi pada  mebel furniture berbahan dasar kayu jati. Namun, harganya yang mahal sering kali membuat kita harus berpikir ulang untuk menjadikannya sebagai elemen interior di rumah.


Untungnya, kini ada banyak jenis kayu lain yang bisa dijadikan alternatif. Masih ada kamper, jati Belanda (kayu bekas peti kemas), atau bahkan MDF (medium density fiberboard), plywood dan particle board.

Bagi Anda yang tinggal di daerah banjir, keinginan menjadikan jenis kayu macam MDF, plywood atau particle board sebagai ornamen mebel di rumah sebaiknya dilupakan saja karena jenis seperti itu tidak tahan akan hantaman air banjir. Lazimnya jenis kayu ini bila terkena hantaman banjir akan mengembang dan kemudian rusak tak berbentuk.

Namun jangan kecewa karena Anda masih bisa memanfaatkan rotan sebagai elemen mebel furniture yang cantik dan menarik. Desainnya pun tak kalah bersaing dengan desain mebel furniture dari kayu jati. Bahkan ada beberapa hotel dan restoran ternama yang menggunakan rotan sebagai elemen interior.
Sekitar 20-30 tahun yang lalu, produksi rotan terlihat dominan pada pembuatan kursi malas. Alasannya lebih karena rotan cenderung lentur, sehingga desain mebel rotan terasa sangat cocok digunakan sebagai kursi malas.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, produksi mebel rotan mulai berkembang ke jenis-jernis yang lainnya, antara lain kursi tamu, kursi dan meja makan, kursi teras, bahkan kini sudah banyak partisi cantik yang terbuat dari rotan dengan warna-warna yang cantik. Tidak sedikit pula yang mengkombinasikan mebel design rotan dengan enceng gondok, sehingga tampilan mebel design furniture rotan tidak monoton.
Supaya lebih empuk dan nyaman, banyak juga yang menambahkan bantalan pada kursi tamu atau kursi makan dari busa yang terbungkus bahan blacu berwarna broken white atau kain sutera ATBM yang berwarna-warni. Hasilnya tentu lebih unik dan etnik.



Prev Post Next Post Home