Beranda | Buku Tamu | Hubungi Kami

Jumat, 04 Oktober 2013

MINIATUR KAPAL


KERAJINAN MINIATUR KAPAL BAGANSIAPIAPI
(Kenangan Yang Tersisa dari Kejayaan Sebuah Bandar)

 
 Apa yang terbayang di pikiran Anda mendengar kata “  Bagansiapiapi... ?”. Kota Penghasil Ikan…! Anda benar, karena pada umumnya orang mengenal kota ini sebagai penghasil ikan terbesar pada masa jayanya. Kota Bagansiapiapi mulai berkembang sejak pemerintah Belanda memindahkan pemerintahan kontroleurnya pada tahun 1901. Sebelumnya pemerintah Belanda mendirikan distrik pertama di daerah Tanah Putih pada tahun 1890, sedangkan saat itu yang mengembangkan kota Bagansiapiapi adalah pemukim Cina.  Saat itu yang menjadi komoditas andalan adalah produk ikan. Hasil ikan di wilayah Bagansiapiapi dan Sekitarnya (Sinaboi dan Panipahan) pada tahun 1878 tercatat 30.000 ton/bulan. Dengan jumlah produksi sebesar itu tidaklah mengherankan jika Bagansiapiapi merupakan sebuah dermaga besar yang menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal besar penangkap ikan.
                     
Selain menjadi bandar (dermaga) besar, Bagansiapiapi juga terkenal dengan industri galangan kapal kayunya. Kapal yang dihasilkan mempunyai bobot 200 – 300 ton dan banyak digunakan oleh nelayan di berbagai daerah di indonesia. Kapal-kapal kayu dari Bagansiapiapi tekenal kuat karena bahan kayu yang digunakan adalah kayu pilihan. Biasanya untuk lunas kapal digunakan kayu kulim yang terkenal kuat. Kayu kulim yang dipakai biasanya tidak bersambung dengan tujuan agar tidak pecah jika terkena hantaman gelombang. Galangan kapal yang ada pada saat itu dipegang oleh warga Cina sebagai ahli desainnya dan pekerjanya dari penduduk tempatan.
Namun itu dulu, sejak tahun 1970-an sampai sekarang hasil tangkap terus menurun. Hal ini disebabkan disebabkan oleh 3 (tiga) hal yaitu :pertama, pendangkalan yang diakibatkan sedimentasi di wilayah perairan Bagansiapiapi, kedua: wilayah perairan di sekitar bagansiapiapi (selat malaka) yang sudah melebihi daya tangkap (overfishing)  dan ketiga, terbatasnya kapal penangkap ikan yang disebabkan minimnya bahan baku pembuat kapal (kayu kulim). Ketiga faktor ini membuat lambat laun bandar ini kehilangan sinarnya.
Sekarang wajah Bagansiapiapi telah berubah, daerah yang dulunya menjadi dermaga kini telah menjadi daerah pemukiman dan perkantoran. Akibat pendangkalan yang begitu cepat, dermaga yang ada saat ini telah bergeser sekitar 3-4 km dari tempat asalnya. Apa yang tersisa dari kejayaan bandar ini di masa lalu?tidak banyak lagi mungkin,yang tersisa mungkin beberapa bangunan lama dan kebudayaan tionghoa seperti Bakar Tongkang yang diadakan tiap tahunnya.
Untuk mengembalikan memori ingatan kita dan mengenang kejayaan Bagansiapiapi sebagai bandar yang ramai di masa lalu diperlukan sebuah media yang tepat. Miniatur Kapal Ikan (Bentuk kapal asli dengan ukuran yang jauh lebih kecil) adalah sebuah media tepat untuk menjembatani hal diatas. Dengan melihat sekilas akan bentuknya yang khas maka kita akan mudah untuk menebak bahwa miniatur kapal kayu (selanjutnya disebut miniatur : red) ini adalah khas di Bagansiapiapi.Kenapa? karena walaupun di tempat lain di Provinsi Riau ada pembuatan miniatur, namun masyarakat sudah mengenal bahwa Bagansiapiapi telah terkenal sejak dulu sebagai  tempat bersandar kapal-kapal besar Kerajinan ini berpeluang ikon khas kota Bagansiapiapi. Selain meningkatkan citra suatu daerah kerajinan ini berpeluang meningkatkan pendapatan perajin kecil dan membuka lapangan pekerjaan.   
Sayangnya di Bagansiapiapi sendiri jumlah perajin yang memproduksi miniatur ini sangat terbatas, mungkin sekitar tiga sampai lima orang perajin yang masih bertahan.Umumnya pekerjaan utama para perajin ini adalah perajin mebel, sedangkan pembuatan miniatur (kapal kayu) menjadi kerjaan sampingan. Jumlah miniatur yang dihasilkan para perajin tergantung akan pesanan pembeli. Permintaan terbanyak biasanya dari pemerintah daerah  untuk pameran. Permintaan dari masyarakat biasanya digunakan untuk pelengkap acara hantaran pada pesta perkawinan, inipun terbatas pada daerah Kecamatan Pasir Limau Kapas (Panipahan). Permintaan yang terbatas menyebabkan mutu kerajinan yang terbatas  bisa dimaklumi kerajinan miniatur ini tidak berkembang.
Untuk mengembangkan kerajinan ini agar dapat diandalkan sebagai ikon dan produk unggulan di Kabupaten Rokan Hilir maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Identifikasi Perajin,  Identifikasi ini mencakup jumlah perajin dan kemampuan teknis perajin. Semakin banyak jumlah perajin maka akan meningkatkan kemampuan produksi.Sedangkan kemampuan teknis perajin berkaitan dengan  model, ukuran dan spefikasi yang dihasilkan.  Perajin perlu dibina dan diasah lagi kemampuan teknisnya. Pelatihan dasar ini diharapkan yang bisa memberi nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan. Khususnya pelatihan yang khusus dalam pengolahan kayu.
2.  Identifikasi Jenis bahan baku . Kayu yang digunakan biasanya jenis pulai, jenis kayu ini semakin lama makin berkurang jumlah produksinya karena illlegal logging. Hal ini mengakibatkan jenis kayu ini mengalami kenaikan tiap tahunnya. Untuk antisipasi masalah keterbatasan pasokan kayu perlu dicari solusinya. Penggunaan kayu dari jenis lain (punak, balsa dll) sangat diharapkan untuk menjaga stabilisasi harga.  
3.   Identifikasi Bentuk dan Ukuran . Bentuk dan ukuran sangat berpengaruh dalam pemasaran. Ukuran yang dibuat perajin miniatur kapal kayu saat ini rata-rata memiliki panjang sekitar 1 meter dan lebar 20 cm. Ukuran ini sebenarnya diposisikan sebagai display atau pajangan. Ukuran sebesar ini menjadi tidak praktis untuk dibawa.Kendala ini menyebabkan pangsa pasarnya tidak terlalu besar. Calon pembeli pada umumnya memikirkan kepraktisan membawa ketika ingin membeli dan luas ruangan di rumah untuk menaruh kerajinan ini Solusinya adalah perajin  membuat miniatur kapal kayu sebagai cenderamata. Perlu dibuat terobosan untuk membuat miniatur kapal kayu dalam ukuran yang lebih kecil. Selain nilai kepraktisan yang diperoleh jika kerajinan ini dibuat kecil,keuntungan lainnya adalah menurunkan harga produksi karena pemakaian bahan baku menjadi lebih sedikit.
4.   Identifikasi Desain dan Detail . Desain bentuk yang menarik tentu saja akan mudah diterima  pasar. Desain untuk pembuatan miniatur kapal kayu haruslah mengacu pada bentuk aslinya. Perlu dicari dan ditelusuri lagi gambar/dokumentasi kapal kayu pada saat Bagansiapiapi sebagai pusat tangkap perikanan dimasa lalu. Dengan adanya gambar tersebut diharapkan pembuatan miniatur ini bisa semirip mungkin dengan  bentuk aslinya. Kalau desain mengacu pada bentuk jadi secara keseluruhan, maka detail menitikberatkan pada pernik-pernik kecil pada kapal kayu. Pernik-pernik yang terdapat pada kapal kayu tersebut seperti warna, nomor kapal, letak tiang, sekoci, jangkar, lampu-lampu, dll. Detail seperti ini harus ada pada miniatur kapal kayu yang akan dibuat. Detail ini juga sebisa mungkin mendekati bentuk aslinya. Desain dan detail yang baik akan tercermin pada produk yang dihasilkan dan membangkitkan kenangan historis calon pembeli. Jika calon pembeli sudah mengagumi karya seni kita hasilkan karena nilai historisnya maka untuk harga tidak menjadi persoalan.
5.  Pemasaran, Pasar yang dimasuki kerajinan miniatur kapal kayu saat ini masih terbatas. Pada umumnya masih bergantung pada pesanan. Karena itu ke depannya akan dikembangkan sebagai cenderamata. Segmentasi pasar kerajinan ini diharapkan pada kegiatan-kegiatan pariwisata yang ada di Provinsi Riau. Even Bakar Tongkang di Bagansiapiapi dan Pacu Jalur di Taluk Kuantan layak dijadikan tempat pemasaran yang potensial. Pasar Luar Negeri juga seharusnya dijajaki. Kemajuan Teknologi seperti penggunaan internet membuka peluang pemasaran ke luar negeri. Pemanfaatan internet dengan menggunakan website sekarang menjadi keharusan. Di dalam website kita bisa menginformasikan produk lengkap dengan gambar dan data teknisnya bahkan transaksi dan pembayaran bisa melalui internet. Website yang kita buat dapat diakses seluruh orang di negara manapun. Bisa dibayangkan betapa besarnya potensi pasar yang akan dituju jika kita menggunakan kemajuan teknologi informasi.  
    Peran Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam hal ini adalah sebagai fasilitator. Mulai dari identifikasi awal sampai perumusan pelatihan yang akan di berikan kepada perajin miniatur. Begitu juga dengan pemasaran, dinas harus bisa menjembatani hasil produksi perajin dengan pembeli potensial di dalam maupun di luar negeri. Selanjutnya jika semua sudah berjalan dengan lancar dalam artian jumlah produksi sudah stabil dan pasar sudah ada maka peran dinas adalah pembinaan. Pembinaan disini difokuskan pada pengembangan produk, di tekankan pada inovasi produk. Inovasi diperlukan agar produk dapat bertahan di pasaran serta untuk menangkap peluang yang lebih besar lagi.
Kelak di suatu hari bukan tidak mungkin kerajinan ini akan menjadi ikon Bagansiapiapi. Wisatawan yang datang ke kota Bagansiapiapi dapat membawa cenderamata berupa miniatur kapal kayu. Sebuah cenderamata yang membangkitkan kenangan kota Bagansiapiapi sebagai Kejayaan Sebuah Bandar di masa yang lalu…    
                    



Prev Post Next Post Home