Beranda | Buku Tamu | Hubungi Kami

Sabtu, 04 Mei 2013

USAHA SUSU KEDELAI MENJANJIKAN


Bermodal Mesin Pinjaman Menembus Pasar Jalan Lintas Bagansiapiapi – Ujung Tanjung. Tidak mudah menemukan rumah Pak Supomo yang berprofesi sebagai perajin susu kedelai ini. Dari pasar tanah merah Kec.Rimba Melintang kami masuk kesebuah jalan lebar yang belum diaspal. Dari jalan tersebut kami berhenti untuk berjalan kaki memasuki sebuah jalan kecil yang sudah disemenisasi.
Syukurnya perjalanan kami dipandu oleh Pak Kahfi yang berprofesi sebagai PPL Pertanian sekaligus sebagai Ketua KTNA, tanpa kesulitan kami menemukan rumah tersebut setelah memasuki jalan kecil.  Rumah sederhana berukuran 4 X 6 M itu tampak bersahaja. Dinding rumah  terbuat dari kayu, atap menggunakan seng biasa, sedangkan lantai rumah sudah disemen. Walaupun sederhana halaman disekitar rumah tersebut kelihatan bersih dan asri , bekas daun-daun yang ada dihalaman tampak tertumpuk rapi sehabis di sapu.

Dengan ramah dan penuh antusias Pak Supomo menceritakan perjalanan usahanya menekuni pembuatan susu kedele.  Usahanya yang dimulai sejak beberapa tahun yang lalu ternyata mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tiap hari tidak kurang dari 3 (tiga) kg kacang kedele diolah menjadi air susu kedele. Dari tiap kilo kacang kedele dapat dihasilkan 15 liter susu kedele. Dengan kemasan botol ukuran 230 mililiter berarti dapat dihasilkan 65 botol. Perbotolnya dijual secara eceran dengan harga Rp.1000. Berarti ada tambahan pendapatan sekitar Rp. 65.000 per kg kacang kedele yang diolah. Dikurangi biaya pembelian kacang kedele (impor) Rp.6.000 per kg, biaya lain-lain Rp.25.000 (asumsi) ada sisa keuntungan sebesar Rp. 34.000 (Rp.65.000-(Rp.25.000+Rp.6.000). Biasanya tiap hari Pak Supomo minimal mengolah 3 kg kacang kedele, berarti tiap hari ada tambahan sekitar Rp.102.000 (Rp.34.000 X 3).


Daerah pemasaran susu kedelai ini di sekitar jalan lintas Bagansiapiapi – Ujung Tanjung. Biasanya pembeli langsung datang ke rumah untuk membeli produk ini, namun ada juga yang diantar langsung oleh Pak Supomo ke toko-toko yang memesan.
Dengan pendapatan yang didapat saat ini Beliau mengaku cukup puas, namun ada beberapa kendala yang dihadapi oleh Pak Supomo untuk mengembangkan usahanya.  
          Pertama, adalah mesin penggiling kacang kedele. Sampai saat ini mesin yang dipakai oleh beliau adalah mesin pinjaman dari temannya. Memang mesin tersebut dipinjamkan secara cuma-cuma, namun kalau di suatu hari nanti mesin itu diambil maka dikhawatirkan akan menghambat pekerjaannya sehari-hari. Pak Supomo berharap suatu hari nanti bisa memiliki mesin itu, karena sekarang, dari hasil yang diperoleh dari penjualan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Kedua, masalah kemasan. Kemasan yang dipakai saat ini memakai kemasan botol kaca ukuran 230 ml, kendalanya adalah banyak dari botol-botol yang terjual tidak kembali lagi. Ini tentu saja akan menambah biaya kemasan jika harus membeli lagi botol-botol tersebut. Kedepannya ia berharap dapat membuat kemasan dari bahan plastik yang berbentuk gelas. Keuntungannya adalah kemasan ini hanya sekali pakai sehingga tidak perlu kuatir lagi dengan masalah ketersediaan kemasan (botol).
Ketiga, tingkat keawetan. Produk susu kedele yang diproduksi oleh Pak Supomo tidak memakai pengawet begitu juga dengan pemanis yang menggunakan gula asli.  Keuntungannya adalah aman dikonsumsi dan rasanya lebih enak. Namun hal ini menyebabkan penjualannya sangat bergantung pada ketersediaan es batu atau lemari pendingin. Tanpa kedua hal tersebut maka air susu kedelai hanya mampu bertahan selama 5 – 6 jam. Perlu dicarikan solusi atas masalah ini, penggunaan bahan pengawet dalam jumlah yang aman (natrium Benzoat) mungkin bisa jadi pertimbangan.
Keempat, bahan baku. Selama ini untuk bahan baku Pak Supomo mengandalkan kacang kedele impor,memang harganya lebih mahal 2 X lipat dari produk lokal yang hanya Rp.3000/kg, namun kualitasnya memang bisa dihandalkan. Selain ukurannya lebih besar, kandungan saripatinya pun lebih banyak dari yang biasa. Menurut pengalaman Pak Supomo, hasil olahan dari kacang kedelai impor airnya tidak kotor dan tidak merubah warna putih secara keseluruhan, beda dengan yang lokal dimana hasilnya bisa berpengaruh kepada susu kedelai yang dihasilkan. Sebenarnya ada produk lokal yang bisa bersaing dengan produk impor,nama variannya “Anjasmoro”,akan tetapi untuk wilayah Rokan Hilir belum ada yang mengembangkan varietas tersebut. Padahal, kata Pak Supomo jika ada yang mengembangkan mungkin harganya bisa lebih murah daripada kacang kedelai impor.    
       Dengan banyaknya kesulitan yang ada tidak menyurutkan langkah Pak Supomo . Ia yakin usaha pembuatan susu kedele nya akan terus berkembang suatu saat nanti. Selain harganya yang terjangkau oleh masyarakat (Rp.1000/botol), tingginya nilai gizi yang terkandung dibandingkan minuman lain serta rasanya yang enak, Pak Supomo yakin usaha ini akan terus hidup dan berkembang seiring berjalannya waktu. Jadi jika anda mampir ke daerah Karya Mukti jangan lupa menyempatkan untuk berkunjung ke tempat Pak Supomo dan nikmati hasil industri kecil dan menengah hasil olahan penduduk tempatan.

Be. M. Syah Padri, ST
                                                                                   


Prev Post Next Post Home