Beranda | Buku Tamu | Hubungi Kami

Rabu, 11 Januari 2012

Tabel Keragaan Produksi Padi dan Beras


Pembuatan Manisan Sotong

SOTONG PANGGANG
(ROASTED CUTTLE FISH)


Sotong atau ikan nus adalah binatang yang hidup diperairan, khususnya sungai maupun laut. Hewan ini dapat ditemukan dihampir semua perairan yang berukuran besar pada kedalaman yang bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter dibawah permukaan. Sotong juga merupakan makanan yang dapat dihidangkan sejenis Seafood.

Sotong sering disalahartikan sebagai cumi-cumi. Keduanya berbeda karena sotong bertubuh pipih, sementara cumi-cumi lebih berbentuk silinder. Selain itu, cangkang dalam sotong tersusun dari kapur yang keras, sedangkan cumi-cumi lunak.
Sotong merupakan makanan utama diwilayah Mediterania dan Asia timur, sama seperti seafood lainnya, sotong kaya akan kalsium dan protein tetapi rendah energi. Yang dapat diolah sebagai hasil produksi rumah tangga bernilai jual tinggi yang dikemas secara higienis, bermutu tinggi untuk dipasarkan kekonsumen.

Adapun bahan-bahan yang dapat digunakan dalam proses pembuatan sotong panggang kering adalah :

  1. Sotong
  2. Cabe Merah
  3. Bawang Putih
  4. Saos Tomat

Cara pembuatan :

  1. Sotong dibersihkan dengan membuang kepala dan isi perut sotong karena dalam proses pembuatan ini kepala dan isi perut sotong tidak digunakan.
  2. Setelah bersih sotong yang telah dibersihkan tadi dikeringkan atau dijemur sampai kering.
  3. Kemudian giling bahan yang kering hingga lumat.
  4. Campurkan sotong yang telah lumat tadi dengan cabe merah, bawang putih, saos tomat dan sedikit air.
  1. Giling pipih bahan yang telah dicampur tadi menggunakan alat giling yang khusus untuk membuat sotong panggang.


  1. Tata adonan yang berbentuk pipih tadi keatas kawat kasa agar diangin-anginkan hingga kering (baik diletakkan diruangan berAC)
  2. Setelah adonan digiling pipih kering, panggang mengunakan open pemanggang selama ± 20 menit.
  1. Keringkan adonan tadi diruangan yang panas dan siap untuk dikemas.
  2. Untuk sotong yang rasanya manis cukup menaburi permukaan adonan yang telah dipanggang


DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
KABUPATEN ROKAN HILIR

Jln. Gedung Nasional No. 41 Bagansiapiapi
Telp/Fax : (0767) 21727


Luas dan Potensi Lahan Persawahan


Peraturan Perundang undangan Perkebunan

PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR 19/Permentan/OT.140/3/2011
TENTANG
PEDOMAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA (INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL/ISPO)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PERTANIAN,
Menimbang : a. bahwa pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar Tahun 1945, diselenggarakan berdasarkan prinsip berkelanjutan dan berwawasan lingkungan;
b. bahwa pengembangan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan sebagai bagian dari pembangunan ekonomi ditujukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan penerimaan negara, meningkatkan devisa negara, menyediakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, nilai tambah dan daya saing, memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri, serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam secara lestari;
c. bahwa atas dasar hal-hal tersebut di atas dan sebagai tindaklanjut Pasal 2, Pasal 25, Pasal 28 ayat (2), dan Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pertanian tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO);
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043);
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419);
4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);
2
5. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888) juncto Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4412);
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4235);
7. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4279);
8. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4411);
9. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4724);
10. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);
11. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4756);
12. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4959);
13. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5059);
14. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5063);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran Penggunaan Pestisida (Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 12);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengelolaan Pembinaan dan Pengembangan Industri (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3330);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3586);
18. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 85, Tambahan Lembaran Nomor 3616);
3
19. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang HGU, Hak Milik, Hak Pakai Atas Tanah (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3643);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5097);
21. Keputusan Presiden Nomor 84/P tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu II;
22. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;
23. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;
24. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan;
25. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/Permentan/OT.140/2/2009 tentang Pedoman Penilaian Usaha Perkebunan;
26. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/PL.110/2/2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit;
27. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Kpts/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pertanian;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PERTANIAN TENTANG PEDOMAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA (INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL/ISPO).
Pasal 1
Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO) seperti tercantum pada Lampiran sebagai bagian tidak terpisahkan dengan Peraturan ini.
Pasal 2
Pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, sebaga dasar dalam mendorong usaha perkebunan kelapa sawit memenuhi kewajibannya sesuai peraturan perundang-undangan, melindungi dan mempromosikan usaha perkebunan kelapa sawit berkelanjutan sesuai dengan tuntutan pasar.
4
Pasal 3
Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit dalam waktu paling lambat sampai dengan tanggal 31 Desember 2014 harus sudah melaksanakan usaha sesuai dengan ketentuan Peraturan ini.
Pasal 4
Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Kelas I, Kelas II, atau Kelas III sampai dengan batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 belum mengajukan permohonan untuk mendapatkan sertifikat ISPO, dikenakan sanksi penurunan kelasa kebun menjadi Kelas IV.
Pasal 5
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 29 Maret 2011
MENTERI PERTANIAN,
SUSWONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,
PATRIALIS AKBAR
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR …..


Pembuatan Ikan Salai Rohil

Ikan salai merupakan produk unggulan yang terdapat di Kecamatan Pujud Kabupaten Rokan Hilir. Produksi ini adalah salah satu sumber mata pencaharian masyarakat sekitar tepian sungai rokan, hal ini dapat dilihat dari mayoritas penduduknya memproduksi ikan salai.

Proses pembuatan ikan salai ini dilakukan secara tradisional dengan menggunakan teknik pengasapan menggunakan tungku pengasapan yang dapat dilakukan pada berbagai jenis ikan sungai yang biasa dikonsumsi.
Cara pembuatan :

  1. Siapkan tungku pengasapan dengan kuantitas api yang kecil sehingga menimbulkan asap yang diperlukan dalam proses pengasapan.
  2. Setelah selesai menyiapkan tungku pengasapan tadi kemudian ikan dibersihkan dengan membuang isi perut ikan.
  3. Kemudian susun ikan diatas kawat kasa pengasapan dengan rapi agar kualitas pengasapan merata pada setiap ikan.
  4. Tutup ikan yang disusun diatas kawat kasa tadi dengan menggunakan seng.
  5. Ikan diasapkan selama 12 jam dan ini tergantung jenis ikan yang diasapkan seperti ikan gabus, baung yang memiliki tingkat ketebalan daging yang lebih tebal dari ikan seperti selais, bada, bisa menghabiskan waktu sekitar 24 jam.
  6. Setelah selang waktu proses pengasapan ikan-ikan tersebut siap untuk didinginkan beberapa saat untuk proses pendinginan untuk dinikmati atau dikemas dalam satu produk yang bisa  dipasarkan.

 Adapun kendala yang dihadapi dalam kemasan ikan salai adalah timbulnya jamur putih pada ikan salai yang biasa terjadi setelah 3 bulan dari proses pengemasan, ini dapat diatasi dengan mengoleskan minyak goreng pada ikan salai tersebut agar jamur putih hilang dan proses ini tidak mengganggu kualitas ikan salai menjadi seperti semula dan ini dapat dilakukan secara terus menerus bila terdapat jamur putih.

 Disperindag : by Padrie



   DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN
KABUPATEN ROKAN HILIR

Jln. Gedung Nasional No. 41 Bagansiapiapi
Telp/Fax : (0767) 21727


Prev Post Next Post Home