Beranda | Buku Tamu | Hubungi Kami

Minggu, 27 November 2011

Video 3D Jembatan Pedamaran



Jembatan Pedamaran Kabupaten Rokan Hilir

Jembatan Pedamaran Kabupaten Rokan Hilir


Infrastruktur Pengairan Kabupaten Rokan Hilir

Infrastruktur Pengairan Kabupaten Rokan Hilir


Infrastruktur Air Bersih Kabupaten Rokan Hilir

Infrastruktur Air Bersih Kabupaten Rokan Hilir


Bandar Udara Kabupaten Rokan Hilir

Bandar Udara Kabupaten Rokan Hilir


Sabtu, 26 November 2011

Kepegawaian Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hilir

Jumlah Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2010 sebanyak 4338 orang. Jika di amati menurut golongan kepangkatan, jumlah pegawai golongan II paling banyak yaitu sebesar 2013 orang, menyusul golongan III sebesar 1725 orang dan golongan IV sebanyak 536 orang sedangkan sisanya 64 orang adalah pegawai golongan I.





Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hilir

Perangkat Daerah Kabupaten adalah Organisasi/Lembaga Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hilir yang bertanggung jawab kepada Bupati dalam rangka penyelenggaraan tugas Pemerintahan yang terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dinas Daerah dan Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan, Kelurahan sesuai dengan kebutuhan daerah.

Sekretariat Daerah terdiri dari :
  1. Sekretaris Daerah;
  2. Staf Ahli;
  3. Asisten;
  4. Bagian.
Sekretarat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah terdiri dari :
  1. Bagian Umum;
  2. Bagian Persidangan dan Risalah;
  3. Bagian Perundangan-undangan;
  4. Bagian Keuangan.
Dinas Daerah adalah unsur pelaksana otonomi daerah Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir yang terdiri dari :
  1. Dinas Pendidikan Kabupaten Rokan Hilir;
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hilir;
  3. Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Rokan Hilir;
  4. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hilir;
  5. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rokan Hilir;
  6. Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Rokan Hilir;
  7. Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Rokan Hilir;
  8. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Rokan Hilir;
  9. Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Rokan Hilir;
  10. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir;
  11. Dinas Pendapatan Kabupaten Rokan Hilir;
  12. Dinas Kehutanan Kabupaten Rokan Hilir;
  13. Dinas Pekebunan Kabupaten Rokan Hilir;
  14. Dinas Sosial Kabupaten Rokan Hilir;
  15. Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pasar Kabupaten Rokan Hilir;
  16. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Rokan Hilir;
  17. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rokan Hilir.
Lembaga Teknis Daerah terdiri dari :
  1. Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Rokan Hilir;
  2. Inspektorat Kabupaten Rokan Hilir;
  3. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kabupaten Rokan Hilir;
  4. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Rokan Hilir;
  5. Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Rokan Hilir;
  6. Badan Kepegawaian Kabupaten Rokan Hilir;
  7. Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Rokan Hilir;
  8. Badan Penanaman Modal Kabupaten Rokan Hilir;
  9. Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Rokan Hilir;
  10. Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Rokan Hilir;
  11. Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Rokan Hilir;
  12. Kantor Pelayanan Terpadu Kabupaten Rokan Hilir;
  13. Rumah Sakit Umum Kelas C Kabupaten Rokan Hilir.
Kecamatan yang terdiri dari :
  1. Kecamatan Bangko;
  2. Kecamatan Sinaboi;
  3. Kecamatan Batu Hampar;
  4. Kecamatan Rimba Melintang;
  5. Kecamatan Bangko Pusako;
  6. Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan;
  7. Kecamantan Rantau Kopar;
  8. Kecamatan Tanah Putih;
  9. Kecamatan Pujud;
  10. Kecamatan Bagan Sinembah;
  11. Kecamatan Simpang Kanan;
  12. Kecamatan Pasir Limau Kapas;
  13. Kecamatan Kubu.
Kelurahan yang terdiri dari : 7 Kelurahan.
Kepenghuluan yang terdiri dari : 138 Kepenghuluan.


Administrasi Pemerintahan Kabupaten Rokan Hilir



Secara Administrasi Kabupaten Rokan Hilir terdiri dari 13 (tiga belas) Kecamatan, yaitu:

1. Kecamatan Bangko terdiri dari 4 Kelurahan, 21 Kepenghuluan, yaitu :
Kelurahan : Bagan Kota, Bagan Hulu, Bagan Barat dan Bagan Timur.
Kepenghuluan : Sungai Besar, Pekaitan, Labuhan Tangga Besar, Labuhan Tangga Kecil, Bagan Punak, Teluk Bano II, Bagan Jawa, Parit Aman, Suak Temenggung, Pedamaran, Suak Air Hitam, Rokan Baru, Labuhan Tangga Baru, Bagan Jawa Pesisir, Serusa, Labuhan Tangga Hilir, Bagan Punak Meranti, Bagan Punak Pesisir, Kubu I, Karya Mulyo Sari dan Rokan Baru Pesisir.
2. Kecamatan Sinaboi terdiri dari 4 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Sinaboi, Sungai Bakau, Raja Bejamu dan Sungai Nyamuk.
3. Kecamatan Rimba Melintang terdiri dari 12 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Rimba Melintang, Jumrah, Teluk Pulau Hilir, Teluk Pulau Hulu, Lenggadai Hulu, Lenggadai Hilir, Mukti Jaya, Karya Mukti, Harapan Jaya, Seremban Jaya, Pematang Botam dan Pematang Sikek.
4. Kecamatan Bangko Pusako terdiri dari 13 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Bangko Kanan, Bangko Jaya, Bangko Sempurna, Bangko Bakti, Bangko Pusaka, Bangko Kiri, Sungai Menasib, Teluk Bano I, Bangko Makmur, Pematang Damar, Pematang Ibul, Bangko Permata dan Bangko Mukti.
5. Kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan terdiri dari 5 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Melayu Besar, Melayu Tengah, Batu Hampar, Mesah dan Labuhan Papan.
6. Kecamatan Tanah Putih terdiri dari 2 Kelurahan, 11 Kepenghuluan, yaitu :
Kelurahan : Sedinginan dan Banjar XII.
Kepenghuluan : Sekeladi, Teluk Mega, Putat, Rantau Bais, Ujung Tanjung, Sintong, Mumugo, Teluk Berembun, Sekeladi Hilir, Manggala Sakti dan Manggala Sempurna.
7. Kecamatan Kubu terdiri dari 1 Kelurahan, 14 Kepenghuluan, yaitu :
Kelurahan : Teluk Merbau.
Kepenghuluan : Teluk Nilap, Tanjung Leban, Sungai Kubu, Rantau Panjang Kanan, Rantau Panjang Kiri, Sungai Pinang, Jojol, Sungai Panji Panji, Pulau Halang Belakang, Pulau Halang Muka, Teluk Piyai, Sungai Segajah, Sungai Majo dan Sungai Segajah Makmur
8. Kecamatan Bagan Sinembah terdiri dari 23 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Bagan Sinembah, Bagan Batu, Bahtera Makmur, Pasir Putih, Balai Jaya, Balam Sempurna, Pelita, Gelora, Kencana, Bagan Bhakti, Lubuk Jawi, Panca Mukti, Harapan Makmur, Salak, Suka Maju, Bagan Manunggal, Bagan Sapta Parmai, Bagan Sinembah Utara, Bagan Sinembah Barat, Bakti Makmur, Makmur Jaya, Pasir Putih Utara dan Jaya Agung.
9.Kecamatan Pujud terdiri dari 13 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Pujud, Suka Jadi, Siarang Arang, Teluk Nayang, Tanjung Medan, Air Hitam, Kasang Bangsawan, Sungai Pinang, Sri Kayangan, Tanjung Sari, Sungai Tapah, Pondok Kresek dan Perkebunan Tj. Medan.
10. Kecamatan Simpang Kanan terdiri dari 6 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Simpang Kanan, Kota Parit, Bagan Nibung, Bukit Damar, Bukit Selamat dan Bukit Mas.
11. Kecamatan Pasir Limau Kapas terdiri dari 7 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Pasir Limau Kapas, Panipahan, Teluk Pulai, Sungai Daun, Panipahan Darat, Panipahan Laut dan Pulau Jemur.
12. Kecamatan Batu Hampar terdiri dari 5 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Bantaian, Sei Sialang, Sei Sialang Hulu, Bantaian Hilir dan Bantaian Baru.
13 Kecamatan Rantau Kopar terdiri dari 4 Kepenghuluan, yaitu :
Kepenghuluan : Rantau Kopar, Sekapas, Sei Rangau dan Bagan Cempedak.


Jumat, 25 November 2011

Pemetaan Perkebunan


Nilai Ekonomi Produk Unggulan Perkebunan Rohil

Nilai ekonomi yang didapat dari usaha perkebunan yang dikembangkan masyarakat dan swasta di kabupaten Rokan Hilir dapat dilihat pada Tabel:

Tabel Potensi Ekonomi Hasil Perkebunan Di Kabupaten Rokan Hilir

Potensi ekonomi yang didapat dari pengelolaan kelapa sawit mencapai Rp 3.060.000/ha – Rp 7.057.500/ha. Potensi ekonomi kelapa berkisar antara Rp 760.000/ha – Rp 1.552.000/ha. Tanaman karet memiliki potensi ekonomi sekitar Rp1.540.000/ha – Rp 7.920.000/ha. Tanaman pinang dengan potensi ekonomi Rp 700.000/ha – 1.120.000/ha. 



Produktivitas Produk Unggulan Perkebunan Rohil

Perkebunan mempunyai kedudukan yang penting di dalam pengembangan pertanian. Tanaman perkebunan yang merupakan tanaman perdagangan yang cukup potensial didaerah ini ialah kelapa sawit, karet dan kelapa. Tahun 2007 luas areal perkebunan adalah 124.849 ha dengan produksi 109.004 ton kelapa sawit, 11.135 ton karet, 2.592 ton kelapa, 212 ton kopi dan 242 ton kakao.

Tabel Luas Areal Dan Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2007
Tabel Luas Panen Dan Produksi Tanaman Perkebunan
Perkebunan di Kabupaten Rokan Hilir memiliki potensi yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Wilayah perkebunan yang sangat luas di Kabupaten Rokan Hilir menjadi salah satu faktor pendorong tingginya produktifitas komoditas perkebunan. Produktifitas perkebunan yang ada di Kabupaten Rohil terdiri dari komoditas kelapa sawit, Kelapa, Karet, Kopi, Pinang dan Cokelat. Berikut ini tabel produktifitas tiap komoditas perkebunan di Kabupaten Rokan Hilir pada masing-masing kecamatan.

Dari tabel diatas terlihat bahwa produktifitas perkebunan yang paling tinggi berada pada komoditas sawit sebesar 6,38 ton/ha disusul oleh kelapa, karet, pinang, kopi, dan cokelat. Hal ini juga didukung oleh lahan perkebunan sawit yang sangat luas dibanding dengan komditi perkebunan lainnya. Selain luasnya lahan, tingginya produktifitas sawit juga dipengaruhi oleh perawatan dari tanaman sawit itu sendiri. Untuk komoditi kelapa dan karet nilai produktifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan sawit. Hal ini jelas dipengaruhi oleh luas lahan yang tidak seluas kebun sawit.

Tabel Luas Panen Dan Produksi Tanaman Perkebunan Rokan Hilir 2009

Karet merupakan komoditas perkebunan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tanaman perkebunan unggulan. Karet merupakan bahan dasar untuk pembuatan ban dan yang lainnya. Getah karet diambil dari pohon kemudian ditampung di wadah dan kemudian setelah terkumpul diberi larutan H2SO4 agar dapat menjadi karet setengah jadi atau yang lebih dikenal dengan ojol. Perkebunan karet di Rokan Hilir memiliki potensi luasan yang cukup tinggi dan tersebar di seluruh Kecamatan. Luas tertinggi berada pada Kecamatan Pujud dengan luas 14.225 ha dan tingkat produksi 16.225 ton. Sedangkan luasan terkecil berada pada Kecamatan Pasir Limau Kapas.

Karet yang dihasilkan oleh Rokan Hilir menurut masyarakat dijual ke Pekanbaru dan Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan Rokan Hilir belum memiliki pabrik pengolahan karet sendiri. Harapan masyarakat adalah pemerintah kabupaten Rokan Hilir dapat mendirikan pabrik pengolahan karet, sehingga pemasaran tidak terlalu jauh dan dapat meminimalisir biaya transportasi. Selain itu produksi karet setengah jadi (ojol) di Rokan hilir juga tergolong tinggi. Informasi dari masyarakat, di daerah Tanah Putih menyebutkan bahwa produksi ojol dapat mencapai 200 ton/minggu, untuk wilayah lain bisa mencapai 500 – 1000 ton/minggu.

Tabel Luas dan Produksi Perkebunan Kelapa Tiap Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir 2009

Kelapa merupakan tanaman yang mempunyai fungsi ekonomis tinggi. Hal ini disebabkan semua bagian tanaman kelapa apabila diolah lebih lanjut dapat dijual. Mulai dari akar, batang, daun hingga buahnya dapat dimanfaatkan menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Sebagai contoh adalah manfaat ekonomis dari bagian buah kelapa. Buah kelapa dapat diolah menjadi kopra, minyak kelapa, bahan makanan dan virgin coconut oil (VCO). Saat ini VCO merupakan produk yang sedang digemari di pasaran.

Wilayah yang memiliki perkebunan kelapa terluas adalah Kecamatan Pasir Limau Kapas dengan luas 6.983 ha dan produksi 6.629 ton/ha. Hal ini mengingat Pasir Limau Kapas merupakan wilayah kepulauan dan berpantai sehingga banyak didominasi oleh tanaman kelapa. Untuk daerah dengan luasan dan produksi kebun kelapa paling rendah adalah pada Kecamatan Bagan Sinembah dan Simpang Kanan. Sebagian besar penjualan untuk kelapa berupa buah dan kelapa cukil atau kopra. Pemerintah perlu mengembangkan potensi kelapa yang ada di Rokan Hilir. Pendidikan dan pelatihan serta mencari pasar untuk hasil olahan kelapa sangat diperlukan.

Tabel Luas dan Produksi Perkebunan Kelapa Sawit Tiap Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir 2009

Awalnya, sawit merupakan tanaman liar di hutan belantara di negara Brazil, Benua Amerika. Pada awalnya sawit diambil minyaknya untuk dikembangkan sebagai bahan bakar mobil. Kemudian sawit masuk di Indonesia dan berkembang sangat pesat, hingga Indonesia menjadi negara pengekspor CPO (Crude Palm Oil) kedua terbesar didunia, setelah Malaysia. Umumnya di wilayah sumatera, sawit merupakan tanaman primadona perkebunan. Sawit merupakan produk unggulan perkebunan yang paling banyak diminati oleh masyarakat Riau. Begitu juga di Kabupaten Rokan Hilir, masyarakat lebih memilih bertanam sawit dibandingkan dengan padi atau jenis tanaman lainnya. Walaupun membutuhkan waktu lama untuk menunggu masa panen, namun ketika sudah dapat dipanen sawit akan memberikan hasil yang menggiurkan. Dalam satu bulan dapat panen sebanyak 2 kali dengan rata-rata hasil panen 1 – 3 ton/ha. Dari tabel 8.6. diatas dapat dilihat bahwa luas perkebunan sawit terluas berada di Kecamatan Bagan Sinembah dengan luasan 34.696 ha dengan produksi 211.509 ton/ha. Sedangkan luasan terendah berada di Kecamatan Sinaboi dengan luas 120 ha dan produksi 238 ton/ha./div>

Tabel Luas dan Produksi Perkebunan Coklat Tiap Kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir 2009

Coklat atau kakao merupakan tanaman perkebunan yang diambil buahnya. Buah kakao diambil untuk kemudian dijemur hingga kering. Kecamatan yang memiliki perkebunan coklat terluas adalah Kubu dan kecamatan yang memiliki luas perkebunan coklat terkecil adalah Bangko dan Rantau Kopar. Kisaran produksi perkebunan coklat di Kabupaten Rokan Hilir adalah 0,4-20,8 ton/ha/tahun. Coklat merupakan komoditi perkebunan yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan coklat sangat dibutuhkan oleh berbagai macam industri, contohnya adalah industri makanan.

Sebagai komoditi yang memiliki potensi, maka coklat harus menjadi salah satu prioritas yang perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah Rokan Hilir dalam mengembangkan tanaman coklat adalah keinginan dan kemauan masyarakat dalam membudidayakan tanaman coklat. Karena selama ini, masyarakat cenderung memilih sawit sebagai tanaman unggulan perkebunan. Untuk mengatasi hal ini, maka Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir harus mampu meyakinkan kepada masyarakat bahwa dengan budidaya tanaman coklat masyarakat dapat memiliki kehidupan yang tidak kalah sejahtera dengan petani/pekebun tanaman yang lain. Selain itu, pemerintah daerah harus mampu menjadikan wilayah Kubu sebagai sentra tanaman coklat.

Untuk mendukung hal tersebut maka pemerintah Kabupaten Rokan Hilir harus mampu menyediakan sarana dan prasarana perkebunan coklat yang memadai, seperti bibit unggul, pupuk, penyuluhan, pemasaran dan kegiatan lain seperti pendidikan dan pelatihan untuk panen dan pasca panen. Hal ini tentu sebagai upaya membentuk sentra tanaman perkebunan coklat yang tangguh. Namun tidak menutup kemungkinan bagi wilayah kecamatan yang lain untuk dapat mengembangkan tanaman coklat,namun dalam hal ini wilayah tersebut hanya berfungsi sebagai zona atau wilayah pendukung bagi wilayah sentra perkebunan coklat. Hal ini dimaksudkan agar masing-masing daerah memiliki ciri khas dan keunggulan yang spesifik untuk suatu komoditi tanaman perkebunan.

Tabel Luas Dan Produksi Perkebunan Pinang Tiap Kecamatan Di Kabupaten Rokan Hilir 2009

Pinang merupakan tumbuhan yang mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Secara ekonomis, semua bagian tanaman pinang mempunyai nilai jual, dari mulai batang, daun hingga buah. Namun, yang paling mempunyai potensi ekonomi tinggi terdapat pada buahnya. Beberapa sumber menyebutkan bahwa buah pinang merupakan bahan dasar untuk membuat kosmetik dan bahan makanan seperti permen/kembang gula. Selama ini, cara pengolahan dari buah pinang masih sangat sederhana. Para pekebun hanya mengolah dengan membelah pinang menjadi dua bagian kemudian dijemur selama dua sampai tiga hari hingga kering kemudian dijual kepada pedagang pengumpul.

Di Kabupaten Rokan Hilir, kebun pinang terluas berada di Kecamatan Rimba Melintang dengan luas 21 ha dan produksi mencapai 3,75 ton. Namun produksi pinang di Kecamatan Rimba Melintang, berbeda dengan di Kecamatan Bangko Pusako dan Rantau Kopar. Di Kecamatan Bangko Pusako, dengan luas 17 ha mampu memproduksi pinang sebanyak 4,6 ton dan di Kecamatan Rantau Kopar dengan luas 13 ha mampu memproduksi pinang sebanyak 4,1 ton.

Hasil yang bervariasi ini menunjukkan bahwa antara luas lahan dengan produksi yang dihasilkan tidak berbanding lurus. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut oleh pemerintah daerah rokan hilir untuk mencari penyebabnya. Pinang memang kurang popular dibandingkan dengan sawit, karet, kelapa dan coklat. Namun dibalik ketidakpopuleran tersebut pinang masih mampu untuk dikembangkan menjadi komoditi unggulan tanaman perkebunan di Kabupaten Rokan Hilir. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, diantaranya adalah tersedianya lahan, iklim yang mendukung dan pasar yang luas. Pemerintah daerah harus jeli melihat peluang tanaman komoditas unggulan untuk dapat dikembangkan dan menjadi sumber pendapatan asli daerah dari sektor perkebunan.

Tanaman buah-buahan yang memiliki produktifitas tinggi dibandingkan dengan tanaman lain diantaranya adalah nenas, pepaya, pisang dan jeruk. Nenas merupakan salah satu tanaman buah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tanaman buah unggulan. Nanas mempunyai potensi pasar yang cukup luas. Pemerintah daerah harus mempunyai terobosan dalam mengembangkan tanaman buah unggulan. Mencari investor yang mau menanamkan modalnya guna mengembangkan perkebunan tanaman buah nenas.

Selain nenas, tanaman papaya, pisang dan jeruk juga mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tanaman buah unggulan. Papaya merupakan tanaman yang mudah tumbuh pada berbagai daerah dengan iklim yang sesuai. Pertumbuhan papaya lebih cepat dibandingkan dengan pisang dan jeruk, sehingga papaya akan lebih cepat panen. Dari segi perawatan tanaman, buah papaya tidak sesulit seperti tanaman jeruk. Hanya saja, buah papaya yang sudah matang harus segera dipasarkan, karena apabila terlalu lama di rantai pemasaran buah papaya akan membusuk. Sehingga penanganan saat panen dan pasca panen, buah papaya harus selalu terjaga dari sinar matahari dan kelembaban.

Pisang merupakan buah bertandan yang hanya sekali berbuah semasa hidupnya. Berbagai jenis atau varietas dari tanaman pisang mempunyai kualitas yang unggul. Buah pisang merupakan buah yang disukai masyarakat, sebagai makanan penutup setelah makan. Selain mengandung berbagai macam vitamin pisang juga memberikan manfaat kesehatan dengan memperlancar system saluran pencernaan manusia. Pisang mudah tumbuh dihampir semua wilayah di Indonesia, sehingga tanaman ini mudah untuk dibudidayakan. Kelemahan dari buah pisang adalah sifatnya yang mudah busuk, sehingga pada saat panen harus tepat waktu. Selain itu, penanganan pasca panen dari buah pisang juga harus diperhatikan agar kualitas buah tetap terjaga.

Tanaman buah jeruk merupakan tanaman buah musiman yang memerlukan perawatan secara khusus dalam budidayanya. Berbagai macam penyakit dan hama akan mudah menyerang apabila tanaman buah jeruk tidak dirawat. Buah jeruk merupakan buah yang sangat digemari masyarakat, sehingga potensi pasar dari buah jeruk masih sangat luas. Namun, saat ini dengan membanjirnya buah impor sabagai akibat era perdagangan bebas membuat persaingan pasar semakin ketat. Jeruk local mulai digantikan oleh jeruk impor dari Cina dan Thailand. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus jeli melihat peluang pasar dari buah jeruk. Apabila ada jenis atau varietas local, maka akan sangat bijaksana apabila pemerintah daerah turun tangan untuk melestarikan varietas tersebut. Dari berbagai jenis tanaman buah-buahan yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tanaman buah unggulan, pemerintah daerah harus mengambil langkah nyata untuk mengembangkan tanaman buah-buahan.

Potensi tanaman buah-buahan yang terdapat di Kabupaten Rokan Hilir berdasarkan sebaran setiap kecamatan adalah tanaman jeruk, pisang, papaya, dan nangka. Hal ini berarti potensi tanaman tersebut dapat dikembangkan sebagai tanaman unggulan dari Kabupaten Rokan Hilir.


Luas Produk Unggulan Perkebunan

Perkebunan memiliki kedudukan yang penting dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Rokan Hilir, mengingat daerah tersebut mempunyai lahan yang cukup luas untuk pertanian dan perkebunan. Perkebunan di Kabupaten Rokan Rokan Hilir dapat dikembangkan di tingkat nasional dan regional, jika dilihat dari produktifitas yang cukup tinggi. Tanaman perkebunan merupakan tanaman perdagangan yang cukup potensial di daerah ini adalah sawit, karet, kelapa, pinang, sagu, dan cokelat. Berikut ini merupakan luas lahan perkebunan yang ada di Kabupaten Rokan Hilir.

Tabel Luas Perkebunan di Kabupaten Rokan Hilir
Luasan perkebunan paling dominan adalah jenis tanaman sawit. Perkebunan sawit masih menjadi andalan bagi masyarakat Rokan Hilir, hal ini dikarenakan sawit memberikan hasil yang cukup tinggi dibandingkan dengan jenis komoditas lainnya.



Pemetaan Perikanan dan Peternakan


Teknologi Tepat Guna Sektor perikanan dan Peternakan

Alat Tangkap Ikan

Penangkapan ikan yang dilakukan di wilayah Rokan Hilir berdasarkan cara beroperasinya dibedakan menjadi dua gololongan yaitu alat tangkap statis dan alat tangkap dinamis. Alat tangkap statis sifatnya tetap dan tidak berpindah-pindah, jenis alat tangkap seperti ini antara lain bubu tiang. Sedangkan alat tangkap dinamis bersifar berpidah-pindah atau selalu bergerak. Masyarakat Rokan Hilir sebagian besar menggunakan alat tangkap dinamis seperti jaring (gillnet). Daerah operasi penagkapan (Fishing ground) alat tangkap tersebut berada sejauh 12 mil dari garis pantai.

Tabel Keadaan Alat Tangkap Ikan Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008

Tidak ada perubahan pada jumlah alat tangkap ikan pada tahun 2008 dibanding tahun 2007 baik itu jumlah perjenis alat tangkap maupun jumlah keseluruhan jenis alat tangkap. Pada tahun 2007 jumlah keseluruhan alat alat tangkap tercantum 3.156 unit, begitu juga dengan jumlah alat tangkap pada tahun 2008. Dari tabel di atas kita ketahui alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah jaring sebanyak 1036 unit, diikuit oleh bubu tiang sebanyak 549 unit. Sedangkan alat tangkap yang paling sedikit digunakan adalah alat tangkap cicisebanyak 4 unit.

Armada Perikanan

Armada perikanan di Kabupaten Rokan Hilir di bedakan menjadi dua yaitu armada perikanan laut dan armada perikanan perairan umum. Armada perikanan laut umumnya dilengkapi dengan alat navigasi, tonese dan kemampuan yang lebih besar dibandingkan dengan armada perikanan perairan umum. Armada perikanan laut sendiri dibedakanmenjadi dua jenis yaitu perahu tanpa motor (PTM) yang digerakan dengan tenaga manusia tanpa bantuan mesin dan perahu bermotor yaitu perahu/kapal/boat/tongkang yang digerakan oleh mesin. Keadaan umum armada perikanan laut Kabupaten Rokan Hilir dalam tiga tahun dapat dilihat pada tabel:

Tabel Armada Perikanan Laut Kabupaten Rakoan Hilir Tahun 2006-2008 (Unit)

Armada perikanan laut tidak mengalami perubahan jumlah dibanding tahun 2007. hal ini berhubungan dengan tidak bertambahnya jumlah RTP pada perikanan laut tangkap. Namun pada armada perikanan perairan umumterjadi kenaikan sejumlah 52 unit yaitu seperti yang dituangkan pada RTP perairan umum pada tahun 2008. Daerah yang paling banyak memiliki armada penangkapan adalah kecamatan Pasir Limau Kapas sebanyak 210 unit kapal tanpa motor dan 902 unit kapal bermotor, diikuti oleh kecamatan bangko sebanyak 110 unit kapal tanpa motor dan 420 unit kapal bermotor. Daerah yang memiliki armada penangkapan dalam jumlah rendah adalah kecamatan Kubu yakni sebanyak 35 unit kapal tanpa motor dan 318 unit kapal motor.

Beberapa kapal yang ditangkap dalam kegiatan pengawasan dan pemberantasan Ilegal Fishing di perairan Kabupaten Rokan Hilir yang perkaranya telah diserahkan ke Kejaksaan (P21) adalah :

Alat Tangkap Garuk Kerang (yang melanggar ketentuan)
- KM. Merpati Dila (Asal Tunjang Balai Asahan, Sumut)
- KM. Sahabat Bahari (Asal Tanjung Balai Asahan, Sumut)
- KM. Sri Rezeki (Asal Tanjung Balai asahan, Sumut)

Alat Tangkap Pukat Harimau (alat tangkap terlarang)
- KM. Bintang Laut (Asal Belawan, Sumut)
- KM. Mina Andalas Samudra III (Asal Belawan, Sumut)
- KM. Maju Baru (Asal Belawan, Sumut)
- KM. Harapan Makmur III (Asal Belawan, Sumut)

Menangkap kan menggunakan 2 kapal gandeng
- KM Setia Makmur dan KM. Setia (Asal Tanjung Balai Asahan, Sumut)


Nilai Ekonomi Produk Unggulan Peternakan

Potensi ekonomi dari sektor peternakan ditentukan berdasarkan kontribusi potensi unggas dan potensi binatang ternak potong. Untuk unggas dapatd ilihat pada table :

Produksi Dan Nilai Unggas Menurut Jenis Unggas Dan Kecamatan Tahun2007

Dari tabel di atas dapat kita ketahui, produksi ayam buras/ kampong tertinggi berada pada kecamatan Bagan Sinembah, yakni 147025 Kg, dengan nilai sebesar Rp 2940500, diikuti oleh kecamatan Bangko, dengan produksi sebesar 94835 Kg, dengan nilai Rp 1896700, sedangkan kecamatan dengan produksi ayam buras/kampong terendah adalah kecamatan Rantau Kopar sebanyak 5992 Kg, dengan nilai 119840. Produksi telur ayam buras tertinggi berada pada kecamatan Bagan Sinembah yakni 108.24 Kg, dengan nilai Rp 865920, diikuti oleh kecamatan Bangko yakni 69.74 Kg dengan nilai Rp 557920, sedangkan kecamatan dengan produksi telur ayam buras/kampong terendah adalah kecamatan Rantau Kopar, yakni 4.4 Kg dengan nilai Rp 35200.

Produksi telur itik tertinggi berada pada kecamatan Bangko yakni 60.28Kg, dengan nilai Rp 602800, diikuti oleh kecamatan Kubu dan Pasir Limau Kapas dengan produksi yang sama yakni 55.11 Kg dengan nilai Rp 551100, sedangkan kecamatan dengan produksi telur itik terendah adalah kecamatan Tanjung Putih Melawan, yakni 0,99 Kg dengan nilai Rp 9900.

Sedangkan potensi ekonomi produksi daging di Kabupaten Rokan hilir dapat dilihat pada Tabel

Tabel Produksi Daging Menurut Jenis Ternak Dan Kecamatan Tahun 2007

Dari tabel di atas dapat kita ketahui, produksi sapi tertinggi berada pada kecamatan Bagan Sinembah, yakni 19.58 ton, dengan nilai sebesar Rp 783200, diikuti oleh kecamatan Bangko, dengan produksi sebesar 8.62 ton, dengan nilai Rp 344800, sedangkan kecamatan dengan produksi sapi terendah adalah kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan sebanyak 0.29 ton, dengan nilai 11600. Produksi kerbau tertinggi berada pada kecamatan Bagan Sinembah yakni 4.03 ton, dengan nilai Rp 161200, diikuti oleh kecamatan Tanah Putih yakni 1,07 ton dengan nilai Rp 42800, sedangkan kecamatan dengan produksi kerbau terendah adalah kecamatan Sinaboi, yakni 0.19 ton dengan nilai Rp 7600. Produksi kambing tertinggi berada pada kecamatan Bangko Pusako yakni 12.51 ton, diikuti oleh kecamatan Simpang kanan yakni 9.83 ton, sedangkan kecamatan dengan produksi kambing terendah adalah kecamatan Batu Hampar, yakni 0,11 Kg.


Pembangunan subsektor peternakan tidak hanya untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak tetapi untuk meningkatkan pendapatan peternak. Populasi ternak di Kabupaten Rokan Hilir tahun 2007 sapi 7.419 ekor, kerbau 1.263 ekor, kambing/domba 42.670 ekor dan babi 9,687 ekor. Jumlah ternak yang dipotong tahun 2007 sebanyak 867 ekor sapi,129 ekor kerbau, 43.119 ekor kambing/domba, dan 9.031 ekor babi. Produksi daging sapi tahun 2007 50,60 ton dengan nilai Rp. 2.024.000.000, daging kerbau 11,41 ton dengan nilai Rp. 456.400.000, dan daging kambing 57,68 ton dengan nilai Rp. 2.134.160.000. produksi unggas tahun 2007 ayam buras/kampong sebanyak 576.545 ton, telur ayam buras/kampong sebanyak 496,43 ton dan teluritik mencapai 301,64 ton. Nilai seluruh produksi unggas Rp. 18.518.740,00 (Rohil dalam angka 2008)


Rabu, 23 November 2011

Nilai Ekonomi Produk Unggulan Perikanan

Subsektor Perikanan dan Kelautan di Kabupaten Rokan Hilir memiliki peranan yang sangat penting, hal ini dapat dilihat dari besarnya kontribusi Subsektor Perikanan dan Kelautan terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Rokan Hilir. Dalam lima tahun terakhir Subsektor Perikanan dan Kelautan memberikan kontribusi lebih dari 20% terhadap produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Rokan Hilir Tanpa Migas. Kontribusi Subsektor Perikanan Perikanan Kabupaten Rokan Hilir yang ingin dicapai oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir pada periode tahun 2006-2010 adalah sebagai berikut. Peranan sektor perikanan dan kelautan dapat dilihat pada Tabel:

Tabel Kontribusi Subsektor Perikanan Yang Ingin Dicapai Oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir tahun 2006-2010

Dalam prediksi kedepan maka Lima tahun kedepan produksi perikanan tangkap Kabupaten Rokan Hilir proyeksikan mencapai 63.640,86 Ton dengan produksi perikanan budidaya mencapai 107,23 Ton. Proyeksi jumlah produksi perikanan tersebut akan dapat memberikan kontribusi terhadap produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Rokan Hilir hingga mencapai 24,03 % sedangkan pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi izin usaha dan hasil usaha diproyeksikan mencapai Rp. 380.270.000,- (tiga ratus delapan puluh juta dua ratus tujuh puluh ribu rupiah).

Rohil dalam angka 2008 Produksi perikanan sebagian besar berasal dari perikanan laut. Hasil perikanan laut 56.376.90 ton (99,88%) dan perairan umum hanya 63,50 ton (0,11%). Produksi ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 1,48%.

Pendapatan asli daerah dari subsektor perikanan bersumber dari retribisi ijin usaha perikanan dan retribusi hasil usaha perikanan, dalam tiga tahun terakhir ini pendapatan asli daerah tersebut mengalami pasang surut. Kondisi ini dapat dilihat pada Tabel 11. Penurunan tersebut sebagai dampak dari adanya surat edaran Mentri Kelautan dan Perikanan yang menyatakan bahwa tidak di perbolehkan memungut retribusi hasil usaha kepada pelaku perikanan tangkap berskala kecil. Walaupun belum jelas standar skala kecil yang dimaksud, namun hal ini mempengaruhi kinerja Dinas Perikanan dan Kelautan untuk memungut izin tersebut. Pada tahun 2007 peningkatan Pendapatan Asli Daerah dibandingkan tahun 2006 merupakan pengaruh dari kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Jabupaten Rokan Hilir.etiap badan maupun orang yang memiliki usaha perikanan harus ditertibkan dan dibina dengan melalui sosialisasi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Usaha Perikanan. Kegiatan tersebut menyadarkan masyarakat untuk aktif membayar retribusi izin usaha dan hasil usaha kepada Dinas Perikanan dan Kelautan.

Tabel Pendapatan Asli Daerah dan Subsektor Perikanan Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (Rupiah)

Dari data tabel di atas dapat kita ketahui pendapatan daerah terbesar diperoleh dari pendapatan daerah dari subsektor perikanan yang mencapai Rp 196825000 pada tahun 2008, setelah dikurangi untuk kewajiban masyarakat membayar retribusi izin usaha dan hasil usaha sebesar Rp 14695000 pendapatan bersih dari subsektor perikanan mencapai 49875000.

Untuk melihat kontribusi perikanan melalui kegiatan perdagangan dapat dilihat pada Tabel. Hasil produksi perikanan Kab. Rokan Hilir berdasarkan data yang diperoleh dari laporan Cabang-cabang Dinas Perikanan dan Kelautan, hasil produksi perikanan tersebut diperdagangkan dalam wilayah Kabupaten Rokan Hilir (lokal), perdagangan antar pulau dan ekspor.

Tabel Perdagangan Hasil Perikanan Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2003-2005 (Ton)

Perdagangan hasil perikanan Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2005 secara keseluruhan mengalami peningkatan sebesar 75.18% atau sebesar 5.289,041 ton. Volume perdagangan lokal mengalami peningkatan sangat besar hingga mencapai 1.091,23 % atau sebesar 1.773,520 ton, perdagangan antar pulau mengalami peningkatansebesar 115,47 % atau sebesar 5.115,364 ton, sedangkan ekspor mengalami penurunan sebesar 65,48 % atau sebesar 1.599,825 ton.

Peningakatan volume perdagangan hasil perikanan ini terutama disebabkan oleh makin membaiknya kinerja Dinas Perikanan dan Kelautan termasuk didalamnya Cabang Dinas dan Pos yang dimiliki oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir. Total produksi hasil perikanan. Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2005 sebesar 59.006,17 ton sedangkan yang terdata dari perdagangan lokal, antar pulau dan ekspor baru mencapai 12.363,622 ton atau sebesar 20,95 % sisanya 79,05 % belum terpantau dengan baik. Data yang belum terpantau tersebut antara lain adalah penagkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan asing, nelayan dari daerah lain terutama dari Sumatera Utara serta masih rendahnya kesadaran kesadaran masyarakat/pengusaha dalam melaporkan kegiatan perdagangan hasil perikanan.

Tabel Ekspor Kabupaten Rokan Hilir Menurut Sektor Dan Komoditi Tahun 2007

Komoditas ekspor kabupaten Rokan Hilir meliputi Udang segar/diawetkan/beku, Ikan laut segar/diawetkan, Udang lainnya dalam kaleng, Udang karang, dan Salai hati serta telur ikan. Komoditas ekspor terbesar adalah Udang segar/diawetkan/beku sebanyak 4445821 Kg dengan nilai US$ 667533, diikuti oleh komoditas udang lainnya dalam kaleng sebanyak 1529570 Kg dengan nilai US$ 618515. Dalam mengetahui nilai ekonomi dari sektor perikanan sangat berkaitan erat dengan produksi dan nilai ekonomi penangkapan ikan. Potensi ini dapat dilihat pada tabel:

Tabel Produksi Dan Nilai Perikanan Laut Menurut Jenis Ikan (Ribuan Rp), Tahun 2006-2007

Dari tabel di atas dapat kita ketahui produkksi dan nilai perikanan laut menurut jenis ikan yang ada di Kabupaten Rokan Hilir. Jenis ikan dengan produksi terbanyak adalah jenis ikan rucah dengan jumlah produksi sebesar 27,816,046 Kg, dengan nilai 55,632,092 (ribuan Rp), diikuti oleh jenis ikan senangan dengan jumlah produksi 5,040,780 Kg. Sedangkan jenisnikan dengan produksi terendah adalah jenis ikan kurau dengan jumlah produksi sebesar 91,800 Kg.

Sedangkan untuk mengetahui nilai ekonomi dari sektor perikanan budadaya sangat berkaitan erat dengan produksi dan nilai ekonomi pembudidayaan ikan. Potensi ini dapat dilihat pada tabel:

Tabel Produksi Dan Nilai Perikanan Budidaya Menurut Jenis Ikan (Kg) Tahun 2007

Tabel di atas menunjukkan jumlah produksi dan nilai perikanan budidaya menurut jenis ikan yang ada di Kabupaten Rokan Hili. Jumlah PRoduksi terbesar adalah ikan jenis patin, dengan total produksi sebesar 20,938 Kg dengan nilai Rp 303,606, diikuti oleh ikan jenis nila dengan total produksi 7,920 Kg dengan nilai Rp 79,200. Total produksi budidaya terendah adalah ikan jenis lain-lain dengan total produksi 103 dengan nilai Rp 1,639.


Potensi Peternakan Kabupaten Rokan Hilir

Pembangunan subsektor peternakan tidak hanya untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak dalam usaha memperbaiki gizi masyarakat tetapi juga untuk meningkatkan pendapatan peternak. Populasi ternak di Kabupaten Rokan Hilir pada tahun 2007 tercatat : sapi 7.419 ekor, kerbau 1.263 ekor, kambing/domba 42.670 ekor dan babi 9.687 ekor.

Informasi lain yang diperoleh Dinas Peternakan adalah jumlah ternak yang dipotong. Pada tahun 2007 tercatat sebanyak 867 ekor sapi, 129 ekor kerbau, 43.119 ekor kambing/domba dan 9.031 ekor babi. Sementara itu produksi daging sapi tahun 2007 mencapai 50,60 ton dengan nilai mencapai Rp 2.024.000.000,00; daging kerbau sebesar 11,41 ton dengan nilai Rp 456.400.000,00; dan daging kambing 57,68 ton dengan nilai sebesar 2.134.160.000,00. Sedangkan produksi unggas pada tahun 2007 berupa ayam buras/kampung sebanyak 576.545 ton, telur ayam buras/kampong sebanyak 496,43 ton dan telur itik mencapai 301,64 ton. Nilai seluruh produksi unggas di Kabupaten Rokan Hilir tahun 2007 mencapai Rp 18.518.740,00. (Rohil dalam angka 2008).

Tabel Banyaknya Ternak Yang Dipotong Menurut Jenisnya Dan Kecamatan (Ekor) Tahun 2007

Dari data di atas dapat kita ketahui banyaknya ternak yang di potong di Kabupaten Rokan Hilir berdasarkan kecamatan. Kecamatan yang memiliki jumlah ternak yang dipotong terbanyak adalah kecamatan Bagan Sinembah, yakni sapi 327 ekor, kerbau 45 ekor, kambing 9932 ekor dan babi 3598 ekor, diikuti oleh kecamatan Bangko, yakni sapi 162 ekor, kerbau 8 ekor, kambing/domba 7386 ekor dan babi 3807 ekor. Sedangkan yang paling sedikit adalah kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan, yakni 5 ekor sapi, 3 ekor kerbau, dan 497 ekor kambing/domba. Sedangkan Untuk mengetahui banyaknya unggas dapat dilihat pada Tabel:

Tabel Banyaknya Ternak Unggas Yang Dipelihara Oleh Rumah Tangga Menurut Jenis Unggas Dan Kecamatan (Ekor) Tahun 2007

Dari tabel di atas dapat diketahui banyaknya jumlah unggas yang dipelihara di Kabupaten Rokan Hilir, menurut kecamatan. Jenis unggas yang dipelihara adalah ayam buras/kampong, ayam ras, dan itik. Kecamatan Bagan sinembah merupakan kecamatan dengan jumlah peliharaan ayam buras terbanyak, yakni 119524 ekor, diikuti oleh kecamatan Bangko sebanyak 94835 ekor, sedangkan kecamatan yang palin sedikit memelihara ayam buras/kampong adalah kecamatan Tanjung Putih Melawan, sebanyak 11163 ekor. Untuk itik, kecamatan yang paling banyak memelihara itik adalah kecamatan Bangko sebanyak 16674 ekor, diikuti oleh kecamatan Pasir Limau Kapas sebanyak 13438 ekor, sedangkan keacamatan yang paling sedikit memelihara itik adalah kecamatan Tanjung Putih Melawan .


Produksi Perikanan Kabupaten Rokan Hilir

Pada tahun 2008 Kabupaten Rokan Hilir memiliki produksi perikanan sebesar 57.607,6 ton, jumlah tersebut 95,89% atau sebesar 55.241 ton berasal dari kegiatan Penangkapan di laut. Produksi perikanan tangkap laut pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 1129 ton atau sebesar 2,09% dibandingkan pada tahun 2007. Salah satu faktor yang menjadi pendukung naiknya produksi perikanan tangkap laut di Kabupaten Rokan Hilir adalah turunnya harga BBM. Kenaikan BBM juga bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan turunnya produksi perikanan tangkap laut, ada faktor lain seperti banyaknya penggunaan alat tangkap pukat harimau atau pukat ikan yang berasal dari Belawan, Sumatra Utara atau penangkapan yang dilakukan oleh nelayan asing. Selain itu tingkat degradasi dikarenakan erosi dan abrasi sungai akibat adanya penebangan hutan di hulu sungai untuk lahan perkebunan, industri kertas juga berperan serta terhadap turunnya hasil perikanan tangkap di Kabupaten Rokan Hilir.

Perikanan perairan umum mengalami kenaikan produksi sebesar 1.5% atau sebesar 34 ton pada tahun 2008 bila dibandingkan pada tahun 2007. Kenaikan produksi ini diperkirakan karena tingkat pencemaran perairan umum yang rendah di Kabupaten Rokan Hilir. Selama tahun 2008 tidak pernah terjadi kematian ikan masal. Perikanan perairan umum di Kabupaten Rokan Hilir banyak dipengaruhi oleh adanya industri besar perkebunan yang berada di sepanjang pinggiran Sungai Rokan. Industri kelapa sawit banyak membuang limbah ke badan perairan dan banyaknya pestisida serta pupuk yang berasal dari perkebunan menyebabkan turunya nilai kualitas air Sungai Rokan.

Kenaikan produksi perikanan budidaya pada tahun 2008 sebesar 13,1% atau 6,2 ton bila dibandingkan dengan produksi pada tahun 2007. Kenaikan produksi didukung oleh normalnya kembali aktivitas budidaya pasca kenaikan harga pakan sebagai dampak dari naiknya harga BBM. Namun turunnya harga BBM tidak diikuti dengan turunnya harga sarana produksi perikanan. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan alternatif dengan cara pemberian pakan alami dan pembuatan pakan sendiri untuk komoditasnya sehingga dapat mengurangi pengguaan pakan dari pabrik.

Tabel Produksi Perikanan Hasil Budidaya di Kolam Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (Ton)

Produksi perikanan keramba mengalami penurunan pada tahun 2008 dibandingkan pada tahun 2007. penurunan sebesar 6,8% atau sebesar 1,1 ton.Penurunan diakibatkan karena kurangnya modal untuk membeli benih dan pakan ikan, kurangnya hasil tangkapan ikan tertentu di Pujud. Ikan yang dipelihara di keramba dengan ukuran 2 x 1 x 1 m selain dari benih juga berasal dari hasil tangkapan nelayan sekitar. Biasanya ikan yang tertangkap adalah dari jenis ikan baung, toman dan lainnya. Kondisi ini sangat ironis mengingat Kabupaten Rokan Hilir memiliki perairan umum yang sangat luaskhususnya sungai rokan, yang sangat potensial untuk pengembangan keramba. Kondisi Rumah Tangga Perikanan (RTP) laut tidak mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun 2007. Perairan di wilayah Selat Malaka khususnya wilayah laut Kabupaten Rokan Hilir telah mengalami kondisi Over Fishing. Oleh karena itu mengakibatkan tidak bertambahnya Rumah Tangga Perikanan.

Rumah Tangga Perikanan perairan umum mengalami pertumbuhan pada tahun 2008 dibandingkan dengan tahun 2007. peningkatan tersebut didukung oleh adanya bantuan sampan dan jaring di Kecamatan Pujud, Rimba Melintang dan Rantau kopar dengan jumlah keseluruhan 80 unit. Bantuan di berikan untuk mengganti sampan yang rusak dan diberikan kepada masyarakat yang tidak punya pekerjaan tetap. RTP terbanyak berada di Kecamatan Pujud, Tanah Putih dan Rantau Kopar mengingat wilayah tersebut berada di wilayah tepi Sungai Rokan. Sungai Rokan merupakan sungai terbesar di Riau, banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya terhadap Sungai Rokan sebagai tempat mata pencaharian, kebutuhan sehari-hari (mandi, cuci dan kakus) serta sarana transportasi.

Tabel Rumah Tangga Perikanan Perairan Umum Kegiatan Penangkapan Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (RTP)

Tabel di atas menunjukkan banyaknya jumlah rumah tangga perikanan perairan umum kegiatan penangkapan di Kabupaten Rokan Hilir. Berdasarkan data tersebut diketahui jumlah rumah tangga perikanan umum kegiatan penangkapan terbanyak adalah di kecamatan Pujud sebesar 400 rumah tangga, diikuti oleh kecamatan Rantau Kopar sebanyak 133 rumah tangga. Jumlah rumah tangga yang paling sedikit berada pada kecamatan Sinaboi, sebanyak 22 rumah tangga.

Tabel Produksi Perikanan Hasil Budidaya Keramba Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (Ton)

Untuk mengetahui Rumah tangga Perikanan dapat dilihat pada tabel. Dari Tabel 8 Kegiatan Rumah Tangga Perikanan budidaya meliputi budidaya di kolam dan di keramba. Kondisi Rumah Tangga Perikanan selama tahun 2008 mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut berada di Kecamatan Bangko. Masyarakat sudah mulai memanfaatkan lahan pekarangannya untuk sesuatu yang produktif.

Tabel Rumah Tangga Perikanan Kegiatan Budidaya Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (RTP)

Dari tabel di atas dapat kita ketahui bahwa jumlah rumah tangga perikanan budidaya terbesar berada pada kecamatan Rimba Melintang dengan jumlah rumah tangga sebanyak 206 RTP, diikuti oleh kecamatan Bagan Sinembah dengan jumlah rumah tangga sebanyak 198 RTP. Jumlah rumah tangga perikanan budidaya yang paling sedikit berada pada kecamatan Tanah Tanjung Putih Melawan sebanyak 11 RTP. Dari 10 kecamatan yang ada di Kabupaten Rokan hilir, kecamatan Kubu merupakan satu-satunya kecamatan yang tidak memiliki rumah tangga perikanan budidaya.


Produktivitas produk Unggulan Perikanan Kab.Rokan Hilir

Pada tahun 2008 Kabupaten Rokan Hilir memiliki produksi perikanan sebesar 57.607,6 ton, dari jumlah tersebut 95,89% atau sebesar 55.241 ton berasal dari kegiatan Penangkapan di laut. Produksi perikanan tangkap laut pada tahun 2008 mengalami peningkatan sebesar 1129 ton atau sebesar 2,09% dibandingkan pada tahun 2007. Salah satu faktor yang menjadi pendukung naiknya produksi perikanan tangkap laut di Kabupaten Rokan Hilir adalah turunnya harga BBM. Kenaikan BBM juga bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan turunya produksi perikanan tangkap laut, ada faktor lain seperti banyaknya penggunaan alat tangkap pukat harimau atau pukat ikan yang berasal dari Belawan, Sumatra Utara atau penangkapan yang dilakukan oleh nelayan asing. Selain itu tingkat degradasi dikarenakan erosi dan abrasi sungai akibat adanya penebangan hutan di hulu sungai untuk lahan perkebunan, industri kertas juga berperan serta terhadap turunnya hasil perikanan tangkap di Kabupaten Rokan Hilir. Produksi perikanan laut dari kegiatan penangkapan dapat dilihat pada tabel dan grafik :
Tabel Produksi Perikanan Laut dari Hasil Penangkapan.
Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (Ton)

Produktivitas dari sektor perikanan laut dapat dilihat dari hasil tangkapan pada tabel. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui produktivitas tertinggi dari hasil tangkapan berada pada kecamatan Kubu, yakni sebesar 23548 ton pada tahun 2008, diikuti oleh kecamatan Pasir Limau Kapas 15696 ton pada tahun 2008. Dari tahun ke tahun produktivitas sektor pertanian dari hasil penangkapan selalu meningkat. Data menunjukkan pada tahun 2006 produksi hasil tangkapan sebesar 53790 ton meningkat pada tahun 2007 sebesar 54112 ton, dan pada tahun 2008 menjadi 55241ton

Grafik Kenaikan Produksi Perikanan Laut dari Hasil Penangkapan
Kabupaten rokan Hilir 2006-2008 (Ton)

Perikanan perairan umum mengalami kenaikan produksi sebesar 1.5% atau sebesar 34 ton pada tahun 2008 bila dibandingkan pada tahun 2007. Kenaikan produksi ini diperkirakan karena tingkat pencemaran perairan umum yang rendah di Kabupaten Rokan Hilir. Selama tahun 2008 tidak pernah terjadi kematian ikan masal. Perikanan perairan umum di Kabupaten Rokan Hilir banyak dipengaruhi oleh adanya industri besar perkebunan yang berada di sepanjang pinggiran Sungai Rokan. Industri kelapa sawit banyak membuang limbah ke badan perairan dan banyaknya pestisida serta pupuk yang berasal dari perkebunan menyebabkan turunya nilai kualitas air Sungai Rokan. Produksi perikanan perairan umum dari hasil penangkapan dapat dilihat pada tabel dan grafik.

Tabel Produksi Perikanan Perairan Umum dari Hasil Penangkapan.
Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (Ton).

Selain hasil perikanan tangkap pada perairan laut, Kabupaten Rokan Hilir juga memiliki potensi pada hasil tangkapan dari perairan umum. Dari tabel di atas kita dapat mengetahui produktivitas perikanan perairan umum dari hasil penangkapan. Data tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tertinggi berada pada kecamatan Pujud, yakni sebesar 710 ton ( 2008), diikuti oleh kecamatan Tanah Putih sebesar 389 ton (2008). Setiap tahunnya produktivitas perikanan perairan umu dari hasi tangkapan Kabupaten Rokan Hilir mengalami fluktuasi, tahun 2006 produktivitas sebesar 3200 ton, lalu menurun pada tahun 2007 menjadi 2264 ton, pada tahun 2008 produktivitas mengalami peningkatan dari tahun 2007, menjadi 2298 ton.

Grafik Kenaikan Produksi Perikanan Perairan Umum dari Hasil Penangkapan
Kabupaten rokan Hilir 2006-2008 (Ton).

Produksi perikanan budidaya kolam juga mengalami kenaikan pada tahun 2008. Kenaikan tersebut sebesar 6,2 ton atau sebesar 13,1% bila dibandingkan dengan produksi perikanan budidaya pada Tahun 2007. Hal ini berkaitan dengan semakin aktifnya kegiatan budidaya pasca kenaikan BBM. Walaupun demikian, kegiatan produksi masih terhambat dengan tingginya harga sarana produksi perikanan seperti pakan. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan alternatif dengan cara pemberian pakan alami dan pembuatan pakan sendiri untuk komoditasnya sehingga dapat mengurangi pengguaan pakan dari pabrik. Berikut ini Tabel yang menunjukan kenaikan produksi perikanan budidaya kolam pada tahun 2008.

Tabel Produksi Perikanan Hasil Budidaya di Kolam Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (Ton)

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kecamatan Bangko merupakan kecamatan dengan produktivitas tertinggi, yaitu 15. 10 ton, diikuti oleh kecamatan Bagan Sinembah sebesar 13.20 ton. Sedangkan produktivitas terendah berada pada kecamatan Tanjung Putih Belawan. Satu-satunya keacamatan yang tidak memiliki produktivitas dari hasil budidaya di kolam adalah kecamatan Rantau Kopar.

Grafik Kenaikan Produksi Perikanan Budidaya Kolam Kabupaten Rokan Hilir 2006-2008 (Ton)

Berbeda dengan yang lain, untuk Produksi perikanan keramba mengalami penurunan pada tahun 2008 dibandingkan pada tahun 2007. penurunan sebesar 6,8% atau sebesar 1,1 ton. Penurunan diakibatkan karena kurangnya modal untuk membeli benih dan pakan ikan, kurangnya hasil tangkapan ikan tertentu di Pujud. Ikan yang dipelihara di keramba dengan ukuran 2 x 1 x 1 m selain dari benih juga berasal dari hasil tangkapan nelayan sekitar. Biasanya ikan yang tertangkap adalah dari jenis ikan baung, toman dan lainnya. Kondisi ini sangat ironis mengingat Kabupaten Rokan Hilir memiliki perairan umum yang sangat luas khususnya sungai rokan, yang sangat potensial untuk pengembangan keramba.

Tabel Produksi Perikanan Hasil Budidaya Keramba Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2006-2008 (Ton)

Dari tabel di atas, dapat kita ketahui bahwa produktivitas dari hasil budidaya keramba berada pada kecamatan Pujud dengan produktivitas sebesar 7.6 ton (2008), diikuti oleh kecamatan Bangko Pusako dengan produktivitas sebesar 3.0 ton. Produktivitas terendah berada pada kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan dengan produktivitas sebesar 2.0 ton.

Grafik Kenaikan Produksi Perikanan Budidaya Kolam Kabupaten rokan Hilir 2006-2008 (Ton)
Tingkat produksi perikanan yang semakin memberikan peluang semakin besarnya produk pengolahan perikanan di Kabupaten Rokan Hilir. Ada beberapa produk hasil pengolahan perikanan yang da di Kabupaten Rokan Hilir diantaranya adalah ikan asap, krupuk udang, ikan asin dan terasi. Selain itu juga ada produksi Galangan kapal yang mendukung kemajuan perikanan di Kabupaten Rokan Hilir.

Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. Oleh sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui semua lapisan masyarakat. Pengawetan ikan secara tradisional bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak. Untuk mendapatkan hasil awetan yang bermutu tinggi diperlukan perlakukan yang baik selama proses pengawetan seperti : menjaga kebersihan bahan dan alat yang digunakan, menggunakan ikan yang masih segar, serta garam yang bersih. Ada bermacam-macam pengawetan ikan, antara lain dengan cara: penggaraman, pengeringan, pemindangan, perasapan, peragian, dan pendinginan ikan. Beberapa contoh produk industri olahan perikanan yang dapat dijadikan unggulan dalam rangka meningkatkan nilai tambah produksi tanaman dan hasil olahannya di Kabupaten Rokan Hilir.

Produksi perikanan di Kabupaten Rokan Hilir sebagian besar berasal dari perikanan laut. Data menunjukkan bahwa dari sejumlah 56.440,40 ton produksi ikan pada tahun 2007 (Rohil dalam angka 2008). Sedangkan potensi perikanan budidaya baik budidaya air laut, payau maupun air tawar di kabupaten rokan Hilir dapat dilihat pada tabel.

Tabel Potensi Perikanan dan Kelautan Kabupaten Rokan Hilir Untuk Kegiatan Budidaya Perikanan

Dari tabel di atas dapat kita ketahui potensi luas lahan untuk budidaya yang ada di Kabupaten Rokan Hilir. Potensi luas untuk budidaya laut dengan substrat pasir/lumpur 10 ha (ikan kakap dengan kedalaman 5-30 m ) dan 25 ha (tiram/kerang dengan kedalaman 0-5 m). Untuk substrat karang/coral/pasir/lumpur dan tidak ada air tawar seluas 5 ha (ikan kerapu dengan kedalaman 5-30 m). Budidaya air payau memiliki potensi luas lahan seluas 990 ha. Sedangkan untuk budidaya air tawar, seperti kolam seluas 614 ha; sungai sepanjang 25 km;danau seluas 20 ha. Luas budidaya tahun terakhir, untuk sungai berkurang menjadi 40 ha, dan sungai 5.2 km. Untuk mengetahui potensi perikanan baik perikanan tangkap (laut dan umum) maupun perikanan budidaya di setiap kecamatan dapat dilihat pada Tabel

Tabel Produksi Perikanan Menurut Kecamatan (Ton) Tahun 2007


Jumat, 18 November 2011

Peta Komoditas Unggulan


Pemetaan Pertanian


Nilai Ekonomi Produk Unggulan Pertanian Kab.Rokan Hilir

Dari sisi nilai ekonomi tanaman pertanian, tanaman padi da cabai masih merupakan tanaman primadona bagi masyarakat di Kabupaten Rokan Hilir. Hal ini disebabkan karena tanaman padi yang memiliki luas 43622 ha memiliki produksi pertahun mencapai 1286.86 ton/tahyn dengan total produksi sekitar 161837.62 ton dan tanaman cabai yang memiliki luas 195 ha memiliki produksi sekitar 418.62 ton memiliki harga sekitar Rp 18000/kg. Produktivitas dan nilai ekonomi tanaman pertanian di kabupaten rokan Hilir dapat dilihat pada Tabel :
Tabel Produktivitas dan Nilai Ekonomi Tanaman Pertanian Rohil
Dari sisi pendapatan bagi para pengusaha dan petani maka potensi pertanian memberikan tingkat kesejahteraan khususnya dari tanaman padi, jagung dan kedelai. Tingkat kesejahteraan petani yang mengusahakan tanaman padi yang terbesar adalah di kecamatan Rimba Melintang, Kubu, Pasir Limau Kapas dan Bangko Pusako. Untuk tanaman jagung dikembangkan di Pujud, Batu Hampar dam Bangko. Sedangkan untuk tanaman kedelai banyak dikembangkan di Bangko.


Kamis, 17 November 2011

Produktivitas produk Unggulan Pertanian Kab.Rokan Hilir

Produktivitas Tanaman pertanian dibedakan menjadi produktivitas tanaman sayur mayur, padi dan tanaman pangan. Produktivitas tanaman sayur mayur yang memiliki potensi luas dan produktivitas tanaman pertanian sayur mayur pada Tabel, dipengaruhi oleh tanaman cabe terung ketimun kacang panjang sawi bayam dan kangkung. Produktivitas tanaman pertanian pada tahun 2006 dibandingan produktivitas tanaman pertanian pada Tahun 2007. Dari hasil pemanenan maka dari luas panen tanaman sayur-sayuran mencapai 1.111 ha dengan produksi 1.851 ton.

Tabel Luas Areal Tanam Panen Produksi dan Produktifitas Tahun 2006

Sedangkan untuk tanaman pangan selama periode 2007 ini memiliki luas tanaman padi adalah 42711 ha yang terdiri dari padi 41.901 dan padi ladang. Sedangkan produksinya 151.34533 ton yang terdiri dari padi sawah 151.01733 ton dan padi ladang 328 ton. Sedangkan luas panen tanaman pangan lainnya hanya 441% dari total luas panen 2061 ha dengan produksi 8564.88 ton, sedangkan produksi tanaman buah-buahan 6712.78 ton.

Dari sisi produksi tanaman bahan makanan tertinggi adalah jenis tanaman padi 145.71256 ton terdiri dari padi sawah 145.28856 ton dan produksi padi ladang 42400 ton. Selanjutnya ketela pohon 3.69327 ton dan produksi kedelai 2.40206 ton. Sementara untuk jenis tanaman pangan lainnya kurang dari satu persen. Tanaman padi sawah relatif tersebar di 11 kecamatan dengan luas panen tertinggi pada kecamatan Bangko 14.888 ha (51.11022 ton) pada posisi (02 15’ 538” LU dan 100 51’ 593” BT) Rimba Melintang 8.836 ha (30.13420 ton) pada posisi.01 49’ 188” LU dan 100 59’ 452” BT dan Kubu 8.532 ha (27.67132 ton)pada posisi 02 05’ 474” LU dan 100 37’ 383 ” BT Sementara delapan kecamatan lainnya kurang dari 3.000 ha dengan produksi kurang dari 11.000 ton. Sementara untuk padi ladang hanya terdapat di Kecamatan Bagan Sinembah 212 ha dengan produksi 424.00 ton berada pada posisi Tanaman Jagung tersebar di 11 kecamatan dengan luas panen tertinggi di Kecamatan Rimba Melintang 18 ha (53550 ton) Simpang Kanan 47 ha (18480 ton) dan Bangko Pusako 50 ha (15120 ton) serta kecamatan lainnya kurang dari 50 ha dengan produksi kurang dari 100 ton. Tanaman ketela pohon banyak dikembangkan di Rimba Melintang Simpang Kanan dan Pasir Limau Kapas Batu Hampar (01 54’ 987” LU dan 100 56’ 105” BT) Bagan Sinembah Kubu dan Bangko Pusako (01 44” 561” LU dan 100 56’ 551” BT). Sedang Ketela rambat banyak terdapat di Kecamatan Simpang Kanan Rimba Melintang dan Kubu.

Untuk tanaman jenis kacang-kacangan (kacang tanah kedelai dan kacang hiijau) tersebar pada sembilan kecamatan dengan jenis luas dan produksi yang berbeda disetiap kecamatan. Tanaman kacang tanah banyak diusahakan di Kecamatan Simpang Kanan Rimba Melintang Bagan Sinembah dan Pujud dengan luas panen antara 1 ha sampai 37 ha dan jumlah produksi antara 19 ton sampai 5605 ton. Tanaman kacang kedelai hanya dikembangkan di enam kecamatan yaitu kecamatan Bangko Rimba Melintang (01 45’ 280” LU dan 101 00’ 589” BT) Kubu TPTJ Melawan Bangko Pusako dan Simpang Kanan. Luas dan produksi tertinggi terdapat di kecamatan Bangko Rimba melintang (01 45’ 280” LU dan 101 00’ 589” BT) dan Kecamatan Kubu (diatas 100 ton). Untuk tanaman kacang hijau dominan diusahakan di Rimba Melintang dan di Kecamatan Simpang Kanan.

Jenis tanaman sayur yang terdapat di Kabupaten Rokan Hilir adalah; sawi bayam kangkung terong kacang panjang cabe dan ketimun. Jenis sayuran yang paling banyak diusahakan adalah terong cabe kacang panjang dan ketimun. Tanaman sawi banyak diusahakan di kecamatan Bangko (02 09’ 914” LU dan 100 48’ 313” BT) Bagan Sinembah Simpang kanan dan rimba melintang. Tanaman Bayam banyak terdapat di kecamatan Kubu bangko (02 09’ 914” LU dan 100 48’ 313” BT) Pasir Limau Kapas Bagan Sinembah dan Simpang Kanan dan 4 kecamatan lainnya dengan luasan dibawah 10 ha. Tanaman Kangkung banyak diusahakan di 9 kecamatan antara lain Kecamatan Kubu bangko (02 09’ 914” LU dan 100 48’ 313” BT) Pasir Limau Kapas Simpang Kanan dan Rimba Melintang. Tanaman Terong banyak diusahakan di 8 kecamatan antara lain Kubu Rimba Melintang Simpang Kanan dan Bagan Sinembah. Kacang panjang banyak diusahakan di kecamatan Rimba Melintang bagan sinembah Simpang Kanan dan Kubu. Cabe banyak diusahakan di kecamatan Rimba Melintang Batu Hampar (01 54’ 987” LU dan 100 56’ 105” BT) Bagan Sinembah Pasir Limau Kapas Kubu dan Simpang Kanan. Ketimun banyak diusahakan di kecamatan Rimba Melintang Batu hampar (01 54’ 987” LU dan 100 56’ 105” BT) Simpang Kanan Pasir limau kapas Kubu bangko pusako (01 44’ 133” LU dan 100 56’ 551” BT) dan Pujud.

Produksi tanaman buah-buahan di Kabupaten Rokan Hilir 6.71278 ton terdiri atas jenis buah: mangga rambutan duku/langsat jeruk jambu biji durian pepaya pisang nenas belimbing manggis nangka/cempedak sawo dan sirsak. Tanaman buah yang paling banyak diproduksi adalah pisang (1.74276 ton) nangka/cempedak (1.49380 ton) pepaya (1.09771 ton) rambutan (1.07900 ton) dan jeruk (71654 ton) dan hampir disemua wilayah jenis tanaman buah-buahan ini hanya sebagai tanaman pekarangan dan tanaman ini adalah merupakan tanaman warisan dari orang tua terdahulu. Tanaman mangga banyak diusahakan di kecamatan Bagan Sinembah. Rambutan banyak terdapat di Rimba Melintang Pujud dan Kububangko. Jeruk dominan diusahakan di Rimba Melintang Pujud Bagan Sinembah dan Kubu. Durian diusahakan di Rimba Melintang dan Simpang Kanan dan Batu Hampar Bangko tanah putih Kubu. Jambu biji banyak diusahakan di Bagan Sinembah dan Rimba Melintang.

Pepaya banyak diusahakan di Rimba Melintang Bagan Sinembah Pasir Limau kapas dan Pujud. Pisang dominan diusahakan di Rimba Melintang Bagan Sinembah Kubu dan Pasir Limau Kapas. Nanas diusahakan di Rimba Melintang dan Bagan Sinembah. Manggis banyak terdapat di Rimba Melintang. Nangka/Cempedak diusahakan di Rimba Melintang dan Bagan Sinembah. Sawo banyak terdapat Bagan Sinembah. Potensi dan produktivitas tanaman pangan dan buah buahan dapat dilihat pada tabel.

Tabel Produksi Tanaman Bahan Makanan Menurut Jenis Tanaman Dan Kecamatan (Ton) Tahun 2007
Sumber: BPS Kab.Rokan Hilir 2008
Tabel Produksi Tanaman Buah-Buahan Jenis Tanaman Dan Kecamatan Tahun 2007
Sumber: BPS Kab.Rokan Hilir 2008

Produktivitas dari sektor pertanian jika dilihat dari komoditas pertanian, maka produktivitas ini dapat dilihat dari kondisi panen dan sisa tanam padi sawah dapat dilihat pada Tabel. dari tabel ini maka kecamatan Bangko merupakan ekcamatan yang memiliki sisa tanam sekitar 14808 ha dengan produktivitas sekitar 51110 ton kemudian diikuti oleh kecamatan kubu dengan produktivitas mencapai 27671 ton dari luas lahan sekitar 8200 ha. Produktivtas dan potensi tanaman pertanian Kabupaten Rokan Hilir masih merupakan primadona yang diusahakan oleh masyarakat pedesaan.

Tabel Keadaan Tanam Panen Dan Produksi Tanaman Padi Sawah Di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2007
Keterangan *) : Produksi Kering Panen
Sumber: Dinas pertanian dan perkebunan 2008

Selain produktivitas padi sawah, kabupaten Rokan Hilir juga memiliki ptensi produktivitas tanaman pertanian padi gogo yang terkonsentrasi pada kecamatan Tanah Putih Tanjung Melawan, Pujud, dan Bagan Sinembah. Produktivitas tanaman padi gogo dapat dilihat pada Tabel. Padi Gogo merupakan tanaman padi yang ditanaman dengan system ladang sering dikembangkan pada tanah bekas hutan, atau semak belukar yang dibuka melalui pembersihan lahan.

Tabel Keadaan Tanam Panen Dan Produksi Tanaman Padi Gogo Di Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2007
Keterangan *) : Produksi Kering Panen
Sumber: Dinas pertanian dan perkebunan 2008

Produktivitas tanaman lainnya dari sektor pertanian adalah tanaman palawija. Tanaman jagung yang tersebar diseluruh kecamatan dengan produktivitas sekitar 0.28 ton/ha – 2.9 ton/ha (Rimba Melintang), tanaman kedelai terutama tersebar di wilayah Bangko memiliki produktivitas 1.7 ton/ha, Rimba Melintang dengan produktivitas 7.3 ton/ha dan Kubu dengan produktivitas 9.3 ton/ha.

Selain potensi tanaman padi, di kabupaten Rokan Hikir juga mengusahakan pertanian sayur mayur. Luas Tanaman sayur mayur di Kabupaten Rokan Hilir berdasarkan data Rokan Hilir dalam angka relative rendah yaitu sekitar 2142 ha dengan produksi hanya berkisar 0.04 ton/ha -0.13 ton/ha. Potensi Luas sayur mayur di Kabupaten Rokan Hilir dapat dilihat pada Tabel :

Tabel Data Luas tanaman sayur mayur di kabupaten Rokan Hilir tahun 2007
Sumber: Dinas Pertanian Kab.Rokan Hilir 2008

Jika dilihat dari Tingkat Kebutuhan, maka kebutuhan akan beras mencapai 64110.84 ton dengan tingkat konsumsi mencapai 88610.08 ton. Kebutuhan ini dipenuhi dari 41903 ha tanaman padi sawah dengan produktivitas 4.089 ton/ha dan padi gogo dengan luas areal 840 ha dengan produktivitas sekitar 2 ton/ha. Kebutuhan akan beras bagi masyarakat Kabupaten Rokan Hilir masih di penuhi oleh hasil produksi tanaman pertanian di wilayah kabupaten Rokan Hilir.



Prev Post Next Post Home